The Good One Festival | 28 Juli 2018

“The new wave of Muslim creators” Festival satu hari untuk pemuda Islam yang mengemukakan kreator-kreator muda muslim generasi baru ke hadapan khalayak. The Good One akan merangkum diskusi-diskusi mendasar dengan menampilkan sineas dan para Guru beserta karya-karyanya. Pendaftaran: https://www.eventbrite.com/e/the-good-one-festival-tickets-48236676197 Atau langsung kontak narahubung: Sartika Idayu 0818 0888 5941 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Tempat: CODE Margonda, Depok Town Square Lantai 2, Jalan Margonda Raya, Depok Hari, Tanggal: Sabtu, 28 Juli 2018 Pukul: 09.00 – 16.00 WIB Bentuk Acara 1. Screening 3 Film Pendek (Film: The Legend, Ri Balla dan Lidah Ayah) 2. Diskusi Film dan Islam (Pemateri: Muhammad Yulius, Ganiyu Rijal Yaris, Ijal Juanda, dan Ab Abdillah) 3. Pembacaan Syair Klasik Ulama (Kurator: Dr. Muhammad Ardiansyah) 4. Monolog “Kreativitas dan Karya Syair […]

Isaghuji fil Mantiq; Kitab Pengantar Logika

Isagoge (Isāghūjī fi al-Manṭiq*) karya Athir Al-Din al-Abhari adalah sebuah kitab pengantar logika yang membawa pembacanya pada tata cara berpikir yang tepat menurut Islam. Ini adalah buku pengantar logika yang berjumlah 25 halaman, tetapi ditulis dengan ringkas nan padat. Sebuah kitab yang meneruskan tradisi ilmuwan muslim dalam memetakan apa itu ilmu di dunia. Karena logika adalah bapaknya ilmu.

Memotret Milenial Muslim

Oleh AB ABDILLAH, Cadik.id – Saya ingin menampilkan bagaimana gambaran sifat milenial muslim saat ini, dan melihat cara pandang mereka. Sampel yang saya ambil adalah pemuda-pemudi yang saya kenal dari berbagai latar belakang, mereka berinteraksi dengan saya dan sering saya “wawancarai” dalam obrolan, milenial-muslim yang saya tampilkan di sini adalah muslim dengan pandangan-alam Islam, jadi mereka dengan sadar menjadikan Islam sebagai ideologi. Saya akan membaginya menjadi tiga golongan dan penamaannya dibuat bedasarkan sifatnya. (1) Aktivis-aktif, (2) Pemuda-cendekia. (3) pewaris-ideologi. Aktivis-aktif Mereka adalah milenial muslim yang mencari ilmu dari kajian-kajian Islam kontemporer, tema kajian yang mereka ikuti cenderung beragam dan pemilihannya sesuai kebutuhan mereka. Mereka ini dapat disebut sebagai kelompok paling “colourful”, itu disebabkan oleh beragamnya ambang keilmuan dan cara pandang […]

Sinema Islam; Memang Sudah Ada?

Merumuskan sinema Islam merupakan wacana yang mungkin ada baiknya dibahas oleh para pengkaji dan praktisi sinema yang memiliki pandangan-alam (worldview) Islam. Saat ini, di Indonesia, pembuatan karya film yang bersinggungan dengan Islam sangat aktif diproduksi, tapi apakah karya-karya yang besinggungan dengan Islam itu memiliki premis yang dibuat dengan pandangan-alam (worldview) Islam? Dalam pengamatan saya, tidak semua karya-karya itu betul-betul Islami, walau bentukan cerita, penokohan dan elemen-elemen luar lainnya dibentuk dengan gambaran Islam, tapi tak jarang mereka menggunakan “mata” ideologi lain dalam memproduksi film-film itu, ada yang memang terjadi karena mencari keuntungan dari sisi bisnis semata, ada pula yang jelas-jelas sebuah propaganda ideologi lain yang menggunakan Islam sebagai “sampan”saja. Mari bercermin dari film Mencari Hilal, film yang diarahkan oleh Ismail Basbeth […]

Pengeras Suara Adzan dan Kedekatan dengan Tuhan

Secara istilah, mengutip Prof. Naquib Al-Attas, sekularisme bisa dipahami sebagai paham “kedisini-kinian”. Menurut Prof. Al-Attas, istilah Inggris secular berasal dari bahasa Latin saeculum yang mempunyai pengertian time (masa) dan location (tempat atau kedudukan). Saeculum berarti masa kini, yang berarti masa sekarang, dan ini juga bermaksud di dunia ini. Implikasinya, “Disini” berarti kebenaran ada disini (dunia), segala hal yang sifatnya “disana” (akhirat) bukan atau belumlah benar adanya. “Kini” berarti zaman (kini; sekarang) menjadi ukuran sebuah kebenaran. Yang benar itu ya yang sekarang. Nanti (hari akhir) ya nanti-nantilah kita bincangkan. Prof Al-Attas dalam “Islam and Secularism” (1978), menyebut tiga komponen proses sekularisasi dalam pemikiran manusia, antara lain: (1) disenchantment of nature (pengosongan alam dari semua makna spiritual); (2) desacralization of politics (desakralisasi […]

Meng-Unfriend Penjajahan Baru

Istilah “penjajahan baru” menggambarkan sebuah anomali. Tak lain karena resminya, kemerdekaan sudah diproklamasikan, tapi penjajahannya masih eksis dan berkeliaran. Tapi istilah itu bukan muncul dari fobia tak berdasar. Tidak pula ia terbit dari alam pikir serba konspiratif yang mudah panik dan gentar. Bung Karno sendiri membungkus istilah itu dalam diksi nekolim, neo-kolonialisme-imperialisme. Lalu seiring waktu, istilah “penjajahan baru” juga diredefinisikan dan diwanti-wanti oleh sejumlah tokoh dan pemikir. Penjajahan baru telah ditelaah berkaitan dengan proyek globalisasi Barat (Arif Munandar, 2014), kekuatan finansial atau diplomasi melalui perusahaan multinasional yang melakukan penjajahan ekonomi melalui penguasaan sumber daya alam (Mangkoehadiningrat, 2011), intellectual colonization atau penjajahan intellektual (Syamsi Ali, 2010), penguasaan ekonomi melalui pengendalian dan penguasaan informasi (Adi Sasono, 2008), information imperialism yang mengisap darah […]

Menemukembali Zubaedah

Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Nyaris setiap bulan ada peringatan hari besar nasional (PHBN) yang asal-usulnya terkait kepahlawanan pada masa silam. Tapi bagaimana dengan seorang puan bernama Zubaedah? Agaknya bukan cuma tak dihargai, malah mungkin dia tidak kita ingat lagi. Padahal namanya dulu rutin disandingkan dengan nama Arief Rachman Hakim (ARH) sebagai pahlawan Ampera. Tapi mengapa ia tak diperkenalkan sebagaimana kebanyakan kita kini mengetahui ARH. Apakah dia hadir di buku-buku pelajaran? Diakah yang sempat dikenang tak berapa lama, untuk dilupakan selama-lamanya? Dialah gadis bernama Zubaedah. Ada ribuan mungkin berjuta Zubaedah di dunia. Tetapi gadis yang raib setelah rubuh rebah pada aksi demonstrasi 51 tahun silam, hanya satu Zubaedah. Setengah abad terlewati, rezim berganti, pejabat daerah […]