Lakukan Islamisasi Atau Ikut Arus Sains Barat Sekuler

Jika saja didunia ini tidak ada cahaya, niscaya tak akan ada penerangan yang mampu mneyeimbangi kehidupan manusia yang sedang berlangsung. Tidak bisa dipungkiri manusia membutuhkan sumber cahaya untuk dapat menerangi kesehariannya selain agar bisa beraktifitas, unsur pokoknya adalah untuk membantu manusia menapaki jalan didepannya.

Kita tak akan pernah bisa bayangkan bagaimana dunia tanpa penerangan, yakni berupa secercah cahaya yang dikirimkan langsung oleh Tuhan yang satu Allah Azza Wa Jalla. Cahaya yang dimaksudkan disini tidak lain ialah “Ilmu”. Ilmu itu bagai cahaya kehidupan, artinya sekalipun satu kampung misalnya belum terdapat adanya sumber penerangan, masyarakat kampung tersebut bisa juga tidak akan merasa kegelapan. Sebab seluruh masyarakat disana memiliki ilmu yang mumpuni. Maka mereka mampu menciptakan cahaya sendiri dengan caranya. Karena ilmu yang bermanfaat tadi.

Maka hakekat ilmu itu adalah benar, karena mampu membuat kebermanfaatan bagi orang lain dan juga diri sendiri. Adapun ilmu hitam, sebetulnya tidak layak disebut dengan ilmu melainkan ‘Pseudo ilmu’ atau ilmu palsu atau bisa disederhanakan dengan ‘bukan ilmu’ karena tidak bermanfaat alias menenggelamkan pribadi seseorang.

Semakin kemari ilmu berkembang pesat diseluruh belahan bumi. Tetapi keaslian ilmu banyak sudah berubah coraknya ini karena ilmu manusia semakin berkembang namun malah menjadi tidak bijak dalam memajukan ilmu itu sendiri. Sekali lagi bukan salah ilmunya tetapi manusianya yang tidak tahu bagaimana cara menggunangkan ilmu dengan adil dan benar. Sampai pada titik zaman globalsasilah ini kini ilmu banyak disalah gunakan dengan sikap manusia yang tidak pernah puas. Membuat para manusia lupa akan asal mulanya ilmu itu datang. Hingga peradaban barat yang kini sudah banyak keluar jalur dalam pemanfaatan dan pengembangan ilmunya mesti kita tegur kembali dalam tahapan Islamisasi ilmu pengetahuan. Sebetulnya hal Islamisasi ilmu pengetahuan ini sudah pernah berlangsung sejak abad ke -9 dalam The Golden Age Of Islam. Hanya saja meredup paska renaissance kemudian tidak kedengaran lagi sampai abad 20-an.

Sampai pada abad 20-an pula para ilmuan muslim berusaha hadir kembali dalam semangat menggelontorkan ide-ide Islamisasi ilmu pengetahuan. Yang diantaranya yakni : Prof. Dr. Naquib Al-Atas, Ismail Raji Al-Faruqi, Seyyed Hossein Nasr, Jafa Syeikh Idris, Ziauddin Sardar dan lain-lain.

Ilmu Dalam Perspektif Muslim.

Ilmuwan muslim jelas sekali memiliki perbedaan atau standar dengan apa yang disebut dengan ilmu. Jika barat sudah dipastikan menyikapi ilmu dengan sekuler atau science saja, tidak dengan muslim. Mari kita lihat pendapat ilmuwan muslim yang pendapatnya berkembangyakni Ibnu Taimiyah. Beliau mendefinisikan ilmu pengetahuan berdasar pada dalil (bukti). Dalil yang dimaksud bisa berupa penukilan wahyu dengan metode yangbenar(al Naql al-mushaddaq), bisa juga beerupa penilitian ilmiah(al-bahts al muhahqqaq). Kenudian yang dimaksud dengan ilmu yang bermanfaat yaitu yang bersumber dari Rasul:

“Sesungguhnya ilmu itu adalah yang bersandar pada dalil, dan yang bermanfaat darinya adalah apa yang dibawa oleh Rasul. Maka sesuatu yang bisa kita katakan ilmu itu adalah penukilan yang benar dan penelitian yang akurat.”

Ibnu Taimiyah menegaskan, jika sesuatu yang dikatakan ilmu tidak berdasar pada dalil seperti yang disebutkan diatas, maka ia ibarat sebuah tembikar ang terlihat bagus hanya dari luarnya saja(khazaf muzawwaq). Maksudnya, kelihatannya seperti sebuah ilmu yang berkualitas tetapi sebenarnya ia bukan ilmu. Atau kalau tidak, menurut IbnuTaimiyah, yang disangka ilmu tersebut adalah sesuatu yang jelas-jelas batal(batil mutlaq) yakni bukan ilmu sama sekali.

Jelas sudah bahwa dalam Islam, Wahyu merupakan sumber ilmu. Sedngkn dalam pamdanangan barat, wahyu tidak termasuk ilmu karena tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Disinilah salah satu perbedaan yang menyolok antara definisi ilmudalam Isam dengan Ilmu daam pandangan Barat.

Jangan Terjebak Istilah.

Sesuatu yang terdengar keren atau berkelas memang banyak diminati masyarakat. Sebetulnya karena mungkin mendapatkan istilah-istilah yang kerasanya menarik padahal muatannya biasa saja. Salah satunya kata “science” atau “sains” yang bermakna ilmu pengetahuan. Akhirnya kebanyakan orang yang muslimpun enggan menghadirkan unsur agama dalam ilmu pengetahuan atau sains tersebut. Maka jangan salahkan jika para pejuang muslim harus turut andil melakukan penyadaran atau keseimbangan akal dan fitrah dalam membaluri tiap-tiap ilmu pengetahuan. Dengan metodenya yakni “meng-Islamisasi Ilmu pengetauan” yang terutama ternodai dengan sains barat sekuler.

Dalam sebuah buku berjudul ‘Ilmu Filsafat dan Agama’ yang ditulis oleh Endang Saifuddin Anshari beliaumengatakan: Salah satu corak pengetahuan adalah pengetahuan yang ilmiah, yang lazim disebut ilmu pengetahuan, atau singkatnya ilmu, yamg ekuivalen artinya dengan science. Dalam bahasa inggris dan Prancis, wissenschaft(Jerman) dan wetenschap (Belanda). Sebagaimana juga science berasal dar kata scio, scire(bahasa Latin) yang berarti tahu, begitupun ilmu berasal dari kata‘alima’(bahasa Arab) yang juga memiliki arti tahu.Jadi baik ilmu maupun science secara etimologis ilmu dan science itu semacam pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri, tanda-tanda dan syarat yang khas.

Mari meng-Islamisasi !

Tak heran bila hingga saat ini banyak ilmuwan yang masih paranoid dengan Istilah Islamisasi sains atau sains Islam. Yang mereka para ilmuwan salah pahami yakni masih memandang ‘sains adalah sains’ sebagaimana tidak adanya sains Kristen, atau Sains Yahudi begitu pula tidak adanya Sains islam. Artinya sains tidakboleh dicampuri dengan aroma agama. Seperti komentar yang diucapkan oleh peraih Nobel fisika Abdussalam. Dia mengatakan: “Hanya ada satu sains universal. Probem-problemnya dan bentuknya adalah internasional dann tidak ada sesuatu seperti sains Islam sebagaimana tidak ada sains Hindu, sains Yahudi atau sains Kristen.”

Osman Bakar juga mengatakan, sekelompok orang muslim kontemporer mempertanyakan legitimasi Istilah “Sains Islam” dengan berargumen bahwa kaum muslimin dimasa lalu tidak pernah menggunakan istilah seperti itu. Jawabannya yakni, karenapara ilmuwan muslim terdahulu masih mengacu pada sains dalam peradaban mereka sendiri. Maka hal yang demikian itu disebabkan kebutuhan akan hal ini belummuncul. Istilah defiitif “Islami” diperlukan manakala kita harus membedakan antara segala sesuatu yang dipandang “Islami” dan “tidak Islami”. Ini berlaku ketika segala sesuatu itu demikian sangat penting seingga ketidakmampuan dalam melakukan pembedaan yang diperlukan bisa menimbulkan kebingungan dan kerancuan dalam pikiran kaum muslimin dan berdampaknegatif pada pemahaman mereka dan pengalaman agama Islam berikut peradabannya. Sudah barang tentu, sains modern termasuk salah satunya.

Jika dahulu para Ilmuwan Muslim tidak benar-benar menghadapi berbagai tantangan sains “Tak Islami” yang sedemikian rupa, maka belum perlu memang melakukan pembedaan tersebut. Terdapat dua alasan kenapa dahulu belum dibutuhkan islamisasi sains,

pertama: dalam kenyataanya tidak ada sains tak islami yang kala itu patut untuk dibicarakan. Walau sebetulnya sudah ada filosof pra islam seperti teori atom Democritus di Yunani, yang dinilai serta dipandang oleh sarjana dan pemikir muslim sebagai “tak Islami” dan yang memang mereka tolak. Namun sebagaimana pandangan mereka, sains-sains kuno yang mereka warisi dan sains-sains kontemporer yang bersentuhan dengannya pun sesuai dengan perspektif Islam tentang Tauhid. In berlaku khusus dengan Ariestotelian, arus utama pemikiran ilmiah Yunani yang masuk ruangg kultural peradaban islam yang terbentuk sampai Al – Ghazali, ulama kritikus terkenal atas Aristoteles, mengakui spirit monoteisme dari pemikiran filosofis dan ilmiah Aristoteles.

Alasan kedua yakni, para ilmuwan muslim terdahulu tidak ada tandingannya khususnyasains mereka. Mereka sadar bahwa merekalah pemuka Intelektual dan penghasilsains kontemporer. Secara praktis, ssains kontemporer adalah sains milik mereka sendiri. “Sains Islami” mereka adalah sains universal dan global dizamannya. Berdasarkan dua hal tersebut, ide tentang sains tak-Islami yang menyuguhkantantangan intelektual pada upaya ilmiah mereka tidak muncul sama sekali.

Dizaman modern, kebutuhan akan istilah definitive “Islami” tampaklah jelas juga akan gamblang bagi siapapun yang sudah mengakrabi sains Islam dan sains Barat modern. Dua karakter sains ini amatlah berbeda masing-masing memiliki sifat dan karakter filosofis. Tidak sedikit pula kaum muslimin kontemporer yang mengalami kebingungan terkait sifat karakter sebenarnya dan juga tetntang unsur historis dari dua sains tersebut. Dengan sendirinya, terdapat kebutuhan yang nampak untuk memahami masing-masing sifat dan ikatan historisnya secara benar.

Terdapat klaim bahwa sains modern adalah pewaris setia dan sah penerus utuh dari sain Islam. Ini banyak diakui oleh para pendukung dan penyokong muslim yang mempelajari sain modern 200 tahun terakhir ini. Mulai dari Jamaludin Al Afghani dan Sir Sayyid Ahmad Khan pada abad 19 hingga ‘keturunan’ intelektual mereka sekarang ini. Al Afghani mengatakan tidak ada perbedaan sifat dan karakter antara sains yang dihasilkan oleh para filosof-saintis muslim seperti Al Farabi dan Ibnu Sihna dengan sains modern.

Memang dalam hal seperti soal-soal metodologi ilmiah dan sifat rasional serta logis dari bahasa wacana ilmiah serta pengaturan berbagai intstitusi keilmuan, sains modern memang dipandang sebagai kelanjutan dari tradisi keilmuan Islam. Tetapi ini hanyalah gambaran sesungguhnya dari hubungan yang sangat kompleks atau bisa dikatakan juga rumit dari dua sains tersebut. Hanya saja sains barat lebih memilih untuk berjalan sendiri dengan gaya sekulernya meninggalkan jalan sains Islam, sains barat tidak ingin menyertakan relevansi metafisika dan etika spiritual. Alias memisahkan agama dari sains. Bisa juga dikatakan, sains barat modern sebagian meneruskan dan sebagian lagi berbeda dengan sains islam tradisional.

Dari poin-poin tersebutlah kita bisa menggaris bawahi bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kdua sains tersebut, maka perlulah kita menyepakati proses Islamisasi, baik dari sisi esensi sains itu sendiri maupun dari segi peristilahannya.

Definisi Islamisasi ilmu pengetahuan berbeda-beda tergantung para konseptornya.mari kita lebih dahulu menelaah apa yang diusung Prof Naquib Al Attas. Sebagai penggagas awal Al Attas memberikan istilah untuk Islamisasi Ilmu pengetahuan dengan Islamization Of Contamporary Or Present-Day Knowledge (al-Ulum al-Mu’ashirah). Al Attas menegaskan yang perlu di Islamisasikan hanyalah sains barat modernnya saja. Ilmu-ilmu agama atau turath islami tidak perlu di Islamisasi karena ia tidak terpisah dari Tuhan sebagai hakekat yang sebenarnya dan sumber segala ilmu. Lebih jelas lagi, Al Attas memaparkan definisi proses Islamisasi ilmu pengetahuan sebagai pembebasan manusia dari unsur magic, mitologi, animism dan tradisi kebudayaan dan kebangsaan serta dari penguasaan sekuler atas akal dan bahasanya. Tegasnya yakni, pembebasan akal atau pemikiran dari pengaruh pandangan hidup yang diwarnai oleh kecendrungan sekuler, primordial dan mitologis.

Lain dengan konseptor Islamisasi ilmu pengetahuan dengan nama Ismail Raji Al Faruqi, ia mengatakan istilam Ilamisasi ilmu denganIslamization of Knowledge (IOK) (Islamiyyatul Ma’rifah), istilah ini yang kerap kali akrab dan dikenal. Al Faruqi menegaskan bahwa segala disiplin ilmu baik kontemporer maupun tradisi Islam mesti ‘di-Islamkan’. Namun istilah ini banyak ditentang, terutama oleh Al Attas krena mengandung arti semua ilmu, termasuk ilmu-ilmu agama juga harus di Islamkan.

Menurut Al Faruqi, Islamisasi ilmub pengetahuan merupakan usaha untuk mengacukan kembali ilmu, yakni untuk mendefinisikan kembali, menyusun ulang data, memikir kembalib argument dan rasionalisasi yang berhubungan dengan data itu, menilai kembali kesimpulan dan tafsiran, membentuk kembali tujuan dan melakukannya secara yang membolehkan disiplin itu memperkaya visi dan perjuangan islam.

Tidak sedikit para ilmuan yang ikut serta dalam mendefinisikan Islamisasi ilmu pengetahuan. Diantaranya, Md Golam Mohiuddin asisten Professor Departmen ofManagement Islamic University, Khustia Bangladesh menyatakan “Makna dari Islamisasi ilmu pengetahuan adalah membebaskan aspek-aspek umum dari ilmu pengetahuan, yang berhubungan dengan bentuk kehidupan praktis, rasa ketidakpercayaan, keragu-raguan dan rasa pesimistik, kemudian merestrukturisasikannya melalui analisa-analisa dan penjelasan dalam kalimat Allah dan hadist Rasulullah.” Banyak ilmuwan muslim yang juga ikut dalaam mengembangkan Islamisasi Ilmu pengetahuan ini. Namun semuanya tidak terlepas dari definisi-definisi para penggagas awal Islamisasi ilmu pengetahuan yakni Al Attas dan Al Faruqi.

Wallahua’lam.

Tulisan ini dirangkum dari buku berjdul “Islamisasi Sains” sebuah upaya mengIslamkan sains barat modern karya Budi Handrianto.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *