Ghazwul Fikri Via Lirik-Lirik

Hundreds of studies have shown that words powerfully influence thinking, behavior, and mood, and much of it occurs without conscious awareness. Favorite songs are listened to over and over hundreds or thousands of times so it makes good sense to speculate that music lyrics may have a profound impact on the listeners perception of the world, other people, and which emotions are experienced as well as the frequency of those emotions.

Di atas adalah kutipan kalimat yang disampaikan psikolog dan penulis populer bernama Dr. John Schinnerer, kalimat ini berarti bahwa ratusan penelitian telah menunjukkan bahwa kata-kata dengan kuat mempengaruhi pemikiran, perilaku, dan suasana hati, dan sebagian besar terjadi tanpa kesadaran. Lagu favorit biasanya didengarkan berulang-ulang, mulai ratusan atau ribuan kali, sehingga masuk akal saja untuk berspekulasi bahwa lirik dari sebuah musik bisa memiliki dampak besar pada persepsi pendengarnya terhadap dunia, orang lain, dan tiap emosi yang dialami, serta frekuensi emosi tersebut.

Dr. John Schinnerer juga menjelaskan bahwa, dalam psikologi, para peneliti mulai memahami pentingnya kerja pikiran diluar pengalaman sadar. kesadaran hanyalah titik lompatan ketika menjelajahi pikiran. Saat ini sudah ada kesepakatan di kalangan ahli saraf bahwa pengolahan kognitif yang selalu terjadi di luar kesadaran Sekitar 90-95% dari aktivitas mental terjadi di luar kesadaran. Kebanyakan dari aktivitas ‘back office’ ini bersifat otomatis dan emosional. Banyak dari aktivitas berlangsung tepat di bawah tingkat kesadaran kita.

Dari fakta yang disampaikan Dr. John Schinnerer, kita dapat memahami tentang cara kerja otak menangkap informasi dari lirik-lirik pada sebuah lagu, seseorang bisa saja menyukai sebuah melodi dari sebuah lagu, awalnya mungkin seseorang dapat menomorduakan lirik, tetapi dengan mendengar berulang-ulang maka pesan pada lagu tertanam pada otak tanpa disadari.

Sebuah lagu bisa saja hadir untuk menjadi penyemangat, penyegar suasana, menjadi pengisi kekosongan waktu, dan banyak benefit positif lain yang biasa di alami melalui lagu, musik sudah berabad-abad menjadi tradisi seni manusia, dengan berkembangnya kehidupan bumi, musik berevolusi menjadi sebuah kebudayaan dunia, bentuknya pun telah berkebang jauh dari sekedar bunyi-bunyian. Mulai dari jenis musik, pendengar musik dan pembuat musik, semuanya memiliki kaumnya masing-masing, dari kaum musik untuk industri, musik untuk seni, musik untuk ekspresi, dan lain-lain. Dan bagaimana dengan posisi pendengar musik? Mereka adalah konsumen musik, sama seperti pembuat musik, pendengar musik juga berada di dalam kaum-kaum, mulai dari pendengar musik hiburan, kaum penikmat seni, dan ada pula pendengar yang berkaum bedasarkan ideologi yang dianut, terlepas dari kelompok-kelompoknya, pendengar lagu biasanya senang mengalami pengalaman mendengar yang sensasional, sebuah lagu menjadi nikmat didengarkan akibat kombinasi dari melodi dan lirik, seseorang bisa saja mengangumi sebuah melodi dan mengabaikan kualitas lirik, ada pula yang mengagumi lirik dan mengabaikan kalitas melodi, dan ada pula yang mensejajarkan standart pribadinya terhadap melodi dan lirik.

Atas kemungkinan disukainya sebuah melodi tanpa peduli terhadap lirik, maka lagu dapa dimanfaatkan sebagai media propaganda, mulai propaganda dengan konten yang baik ataupun buruk, baik yang disampaikan secara halus maupun secara terang-terangan. Dan atas kesempatan untuk menyisipkan pesan-pesan kepada banyak orang melalui lagu, banyak orang yang menghasilan lagu yang bertujuan mempengaruhi khalayak luas, sebab lagu yang disukai akan didengarkan berulang, dan pasti akan ada informasi yang tertanam pada otak tanpa disadari pendengar, melalui pesan-pesan tersebutlah telah terjadi perang pemikiran (akrab disebut ghazwul fikri) melalui lirik lagu,

Mari kita mulai memantau contoh-contoh potongan lirik dari lagu-lagu yang populer, kita mulai dari DEV, sebuah band yang popular mendunia dan berasal dari Amerika Serikat, pada sebuah lagu berjudul In The Dark, band ini menampilkan lirik I wanna see who you are, I got a sex drive just push to start, Push push push push to start, I got a sex drive just push to start. Kata-kata yang ditampilkan dalam lirik lagu ini menggambarkan seseorang yang mendapat dorongan hasrat seks pada orang lain yang bahkan belum ia lihat, dan orang tersebut memiliki dorongan untuk memulai. Maka sebuah kewajaran jika kita berspekulasi bahwal lirik ini merupakan bentuk propaganda kehidupan seks bebas, lagu ini bergenre EDM (Electronics Dance Music), sebuah genre lagu dengan mayoritas penikmat berusia muda (15 s/d 30 tahun), bedasarkan target pendengarnya, musik ini dapat menanamkan informasi kegidupan seks bebas pada pra-remaja, remaja, dan usia muda. Kini kita beralih ke lirik lagu lain, sebuah lagu yang hadir dari musisi dalam negeri, “Ini tanganku untuk kau genggam, ini tubuhku untuk kau peluk, ini bibirku untuk kau cium, tapi tak bisa kau miliki, ini merupakan lirik lagu berjudul Elang yang diciptakan oleh musisi ternama Indonesia bernama Ahmad Dhani. Tak jauh dari isi lirik lagu DEV, lagu Elang menggambarkan pengeksploitasian tubuh seseorang tanpa harus ada status pengikat hubungan, ini jelas dalam penggunaan kata tapi tak bisa kau miliki.

Dan untuk segala kemungkinan yang dapat terjadi, sudut pandang Islam barangkali dapat diwakilkan melalui ayat Al-Quran ini Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.”, melalui ini dapat kita beranggapan bahwa dalam pandangan Islam memproduksi sebuah lagu dengan lirik (kata-kata) dengan kesia-siaan dan menyesatkan adalah sebuah kesalahan.

Dan agar sebuah karya muslim menjadi karya yang unggul secara ideologi, maka sudut pandang Islam barangkali dapat menjadi acuan, melalui ayat Al-Quran ini dapat tergambarkan sebuah ide penulisan lirik yang dapat memenangkan ghazwul fikri “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.. Ayat-ayat Allah SWT adalah referensi terbaik bagi seniman muslim dalam menulis lirik yang bertujuan mengemukanan kebenaran sudut pandang Islam terhadap dunia.

Tulisan adalah ruang bagi pembaca untuk membangun kesimpulan dan memulai penelaahannya sendiri, sebab sebuah kebenaran tidak akan berefek banyak tanpa dialami sendiri. Dan, tulisan ini juga merupakan ruang terbuka bagi pembaca untuk merangkum kesimpulan.

Abdillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *