Ketidakseimbangan Sudut Pandang Dunia

Apa saja yang pernah kita tonton? Hal-hal yang kita pernah kita saksikan itu, seberapa berpengaruhkah terhadap hidup kita? Sadarkah, bahwa setiap tayangan film memiliki sudut pandang, memiliki cerita yang dituturkan melalui sudut pandang yang telah dirancang oleh pembuat film. Setiap film yang tertuturkan kepada kita, memiliki informasi-informasi yang diserap oleh otak kita, baik secara sadar maupun secara tidak sadar.

Dari sekian banyak tontonan yang hadir dalam hidup seorang manusia, dari ia lahir hingga ia mati, terdapat sangat banyak informasi yang mempengaruhi alam pikir manusia. Setelah berhasil mempengaruhi alam pikir, maka informasi-informasi tersebut dapat mempengaruhi berbagai aspek kehidupan manusia. Pengaruh itu mulai dari gaya hidup, cara menentukan keputusan, bahkan dapat mempengaruhi ideologi seseorang

Tak bisa dipungkiri, film merupakan karya seni yang bisa sangat berpengaruh terhadap banyak aspek kehidupan manusia masa kini. Film secara sederhana dapat didefenisikan sebagai cerita yang dituturkan kepada penonton melalui rangkaian gambar bergerak, demikian menurut R.B Armantono dalam buku Diktat Penulisan Skenario terbitan Institut Kesenian Jakarta. Bedasarkan definisi tersebut, dapat kita simpulkan secara desainpun film memang dirancang untuk menuturkan informasi.

Sejarah Film; Selayang Pandang

Secara sejarah, film tidak bisa lepas dari sejarah fotografi dan peralatan pendukungnya, yaitu kamera. Kamera pertama di dunia ditemukan oleh seorang Ilmuwan Muslim, Ibnu Al-Haitham. Fisikawan ini pertama kali menemukan Camera Obscura dengan dasar kajian ilmu optik, menggunakan bantuan energi cahaya matahari. Dengan mengembangkan ide kamera sederhana tersebut, mulai ditemukan kamera-kamera yang lebih praktis, bahkan inovasinya demikian pesat berkembang, sehingga kamera mulai bisa digunakan untuk merekam gambar gerak.

Ide dasar sebuah film sendiri, pada awal sejarahnya terpikir secara tidak sengaja. Pada tahun 1878, ketika beberapa orang pria Amerika berkumpul dan dari perbincangan ringan menimbulkan sebuah pertanyaan: “Apakah keempat kaki kuda berada pada posisi melayang pada saat bersamaan ketika kuda berlari?” Pertanyaan itu terjawab ketika Eadweard Muybridge membuat 16 frame gambar kuda yang sedang berlari. Dari 16 frame gambar kuda yang sedang berlari tersebut, dibuat rangkaian gerakan secara urut, sehingga gambar kuda terkesan sedang berlari. Dan terbuktilah, bahwa ada satu momen dimana kaki kuda tidak menyentuh tanah ketika kuda tengah berlari kencang.

Konsepnya hampir sama dengan konsep film kartun. Gambar gerak kuda tersebut menjadi gambar bergerak pertama di dunia. Dimana pada masa itu belum diciptakan kamera yang bisa merekam gerakan dinamis. Setelah penemuan gambar bergerak Muybridge pertama kalinya, inovasi kamera mulai berkembang ketika Thomas Alfa Edison mengembangkan fungsi kamera gambar biasa menjadi kamera yang mampu merekam gambar gerak pada tahun 1888, sehingga kamera mulai bisa merekam objek yang bergerak dinamis.

Maka dimulailah era baru sinematografi yang ditandai dengan diciptakannya sejenis film dokumenter singkat oleh Lumière Bersaudara. Film yang diakui sebagai sinema pertama di dunia tersebut diputar di Boulevard des Capucines, Paris, Prancis dengan judul Workers Leaving the Lumière’s Factory pada tanggal 28 Desember 1895 yang kemudian ditetapkan sebagai hari lahirnya sinematografi. Film inaudibel ‘tanpa suara’ yang hanya berdurasi beberapa detik itu menggambarkan bagaimana pekerja pabrik meninggalkan tempat kerja mereka pada waktu pulang.

Pada awal lahirnya film, memang tampak belum ada tujuan dan alur cerita yang jelas, namun seorang pesulap dan penggiat teater bernama Georges Méliès mengetahui inovasi yang dihadirkan Lumiere Bersaudara. Setelah menyaksikan film untuk pertama kalinya, pada tahun 1895, Méliès membeli kamera perekam pertamanya dan mulai membuat film. Secara seksama, ia mempelajari teknologi perfilman, kemudian ia memperoleh proyektor, mesin cetak, dan perlengkapan lain yang dibuat khusus memenuhi keinginan Méliès.

Méliès kemudian memulai menggunakan kameranya untuk mendokumentasikan pentas pertunjukan pada teater Robert-Houdin. Pada akhir tahun 1896, Méliès mulai mengkombinasikan pengetahuannya mengenai seni sulap dengan pembuatan film. Hal ini menghasilkan sebuah film dengan nuansa ilusi, yang menampilkan pemeran yang muncul dan kemudian menghilang, atau sebuah obyek yang berubah wujud menjadi obyek lainnya.

Waktu terus berjalan, film semakin berkembang, lalu ketika ide pembuatan film mulai tersentuh oleh ranah industri, mulailah film dibuat lebih terkonsep, memiliki alur dan cerita yang jelas. Meskipun pada era baru dunia film, gambarnya masih tidak berwarna alias hitam-putih, dan belum didukung oleh efek audio. Ketika itu, saat orang-orang tengah menyaksikan pemutaran sebuah film, akan ada pemain musik yang mengiringi secara langsung sebagai efek suara atas gambar bergerak yang ditampilkan di layar.

Menggugat Hollywood

Saat ini, film Hollywood masih menjadi pusat industri film terbesar dan bepengaruh di dunia, tapi tahukah kita bahwa ada hal-hal yang dapat kita telaah dari film-film yang diproduksi oleh Hollywood. Saat ini Hollywood masih menjadi penguasa industri film dunia, mereka membuat film dengan jumlah banyak dan menyebarkannya ke seluruh dunia dan mempengaruhi alam pikir banyak manusia. Di luar masalah industri film tiap negara yang sulit melawan Hollywood di tanahnya sendiri, ada sebuah masalah yang jarang disadari mansyarakat dunia, yaitu ketidakseimbangan sudut pandang.

Melalui film-film Hollywood yang telah kita konsumsi sejak balita, kita telah menyerap banyak informasi yang mempengaruhi kita. Kita mungkin merasa tontonan hanyalah sebatas hiburan, padahal pada hakikatnya tidak. Hollywood telah berhasil mempengaruhi masyarakat dunia. Film hiburan yang kita saksikan mengandung ide-ide yang perlu kita telaah, karena apa yang kita tihat baik terkadang tidak benar-benar baik.

Mari kita menelaah, saat kita menonton Monster Inc., apakah kita sadar kita sedang belajar bahwa monster itu baik dan manusia bisa saja berkerabat dengan monser. Atau ketika kita menonton Maleficent, kita melihat bagaimana penyihir merupakan sosok pengasih dan dapat mengasihi sesama. Ada juga film berseri The Hunger Games yang dengan detil mengajarkan kita untuk memicu pemberontakan. Terdapat banyak lagi informasi-informasi yang kita serap saat kita merasa hanya sekedar menonton sebuah hiburan, semisal liberalisme yang budayanya sudah kita pelajari sejak kecil melalui rupa-rupa film. Film-film Hollywood-lah yang memaparkan kehidupan berpacaran, kehidupan seks di luar pernikahan. Pada film untuk kategori anak saja, bisa kita dapati adegan berpacaran, begandengan tangan, bahkan berciuman. Melalui film-filmnya, Hollywood mulai menyamaratakan budaya dunia dengan budaya yang dibangunnya melalui film.

Untuk menyeimbangkan sudut pandang yang telah terarahkan oleh Hollywood, kita tidak dapat menutup mata dan memilih diam, dan kita juga tidak dapat berpikir film hanya sebuah hiburan. Semua informasi yang terpaparkan oleh sebuah film benar-benar mempengaruhi seluruh aspeh hidup manusia.

Atas hal-hal yang telah disampaikan di atas, kita perlu untuk membangun suatu industri film yang sama kuat dengan Hollywood. Dengan style dan budaya sendiri kita perlu meng-counter sudut pandang yang disebarkan oleh Hollywood terhadap masyarakat kita. Mungkin kita tidak dapat langsung membuka pemikiran semua orang atas apa yang telah dilakukan oleh Hollywood, tapi kita dapat menyeimbangkan sudut pandang dunia yang telah diarahkan oleh Hollywood.

Indonesia memiliki beberapa sekolah film, dan di seluruh dunia terdapat banyak sekolah film. Pemuda-pemudi berbakat kita perlu diarahkan untuk belajar film. Namun selain belajar film, mereka juga harus memperkuat keilmuan Islamnya secara ideologi, ini diperlukan karena dalam industri film dunia, sudut pandang Islam-lah yang paling jarang dipaparkan dengan benar. Pada beberapa tahun terakhir, pembuat film Indonesia sering membuat film bersudut pandang Islam, namun banyak juga film-film tersebut memaparkan hal-hal rancu. Itu disebabkan karena pembuat film bisa saja berkulitas dalam pemahaman memproduksi film, tapi banyak yang membuat film untuk kebutuhan industri saja, hanya untuk mendapatkan jumlah penonton yang banyak, tetapi lalu mengabaikan kedalaman ideologis sebuah film.

Wallahua’lam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *