Kasus Pecut Kuda yang Viral: Adakah yang Marah Melihat Si Miskin Membuang Nurani untuk Mendapatkan Uang?

Memantau lini-masa di twitter, saya melihat akun Jakarta Animal Aid membagikan sebuah video seorang kusir delman yang terlihat kejam memecut kuda yang tengah terbaring (diduga terbaring karena kelelahan) pada 1/9/2017. Dari komentar-komentar yang masuk ke video itu, dapat saya lihat kemarahan pengguna twitter kepada sang kusir yang kejam menyiksa kuda tersebut. Tentu saja sayapun ikut geram melihat video itu.

Dari eksplorasi lebih jauh di platform-platform media sosial lain, saya akhirnya mengetahui fakta ternyata video ini telah viral. Setelah mamantau kasus ini, saya berpendapat ada ketidakseimbangan sudut pandang pengguna media sosial dalam melihat kasus ini. Siapa yang tak setuju kalau tindakan kusir delman (yang belum saya dapati namanya itu) kejam dan tak bernurani? Tentu saja semua setuju tindakan itu salah dan buruk mau dipandang dari sudut mana saja.

Kita marah melihat kuda dipecuti dan diperlakukan dengan tidak bernurani, tapi adakah yang marah melihat sistem kehidupan yang membuat si miskin (kusir kuda) harus membuang nurani demi mendapat uang? Adakah yang marah milihat bapak kusir itu bekerja bagai kuda, hingga harus menyiksa kuda? Adakah yang terpikir untuk mengetahui beban apa yang ia miliki, hingga harus tetap bekerja, meski kuda telah tak mampu bekerja? Kita mampu marah dan menggunakan nurani, sebab cukup uang dan tak perlu kerja fisik, sehingga nurani kita masih terpupuk dalam lingkungan hidup yang nyaman. Kasus video kuda diperlakukan kejam ini hanyalah secuil kecil contoh dimana manusia miskin harus membuang nurani untuk memperoleh uang.

Tentu ini berkaitan langsung dengan ekonomi pribadi dan keluarga kusir kuda yang menjadi objek kemarahan pengguna sosial media saat ini. Selain itu, ini berkaitan pula dengan sistem ekonomi negara kita yang mempengaruhi banyak lini kehidupan manusia Indonesia. Sistem kapitalis telah menjadikan Indonesia sebagai negara yang dikuasai oleh korporasi. Kedaulatan rakyat yang selama ini diteriakkan pun seakan hanya ilusi semu saja. Sistem yang ada sekarang tidak lain cuma sebagai alat penjajahan asing di Indonesia.

Lapis terbawah masyarakat harus mati-matian untuk mendapatkan uang, sedangkan lapisan menengah dan atas mampu marah pada lapisan terbawah sebab telah kehilangan nurani. Kita sepatutnya memberanikan diri untuk bertanya: bukankah kemarahan itu hanyalah sebuah paradoks? Sebab harta dan pendidikan orang-orang kelas menengah dan atas ini dicapai dengan sistem ekonomi yang memicu kemiskinan lapis bawah masyarakat kita. Kemiskinan itu pulalah yang sedikit banyaknya telah membuat masyarakat miskin terpaksa membuang nurani.

Dalam memandang nilai, sistem ekonomi kapitalis beranggapan bahwa nilai paling tinggi dari ekonomi itu adalah saat kebutuhan terpenuhi dan materi bisa diperoleh. Hal ini tak pelak menimbulkan satu individu dan masyarakat yang sangat mengagungkan nilai-nilai materialisme. Karena tidak ada nilai yang lebih tinggi kecuali nilai materi dan dari sistem pemikiran seperti itu nilai-nilai luhur seperti nilai-nilai keharmonisan, nilai-nilai persaudaraan, termasuk juga nilai-nilai agama menjadi terabaikan.

Jadi, nilai materialisme itulah yang sangat diagungkan. Dalam ekonomi kapitalis, diakuinya kepemilikan harta pribadi secara penuh dan tidak ada kebebasan yang sempurna. Sebagian dapat memperoleh kebebasan yang lebih dari pada yang lain, dengan semangat materialisme-nya ini, sistem kapitalis kemudian mempunyai tujuan, yaitu mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dengan modal yang sekecil-kecilnya.

Kapitalisme mendorong manusia untuk memproduksi segala macam. Kalau produksi itu dianggap sebagai industri maka industri dalam kapitalisme itu bukan hanya manufaktur, bukan hanya barang-barang, tetapi juga industri hiburan, bahkan industri seks, karena itu dianggap sebagai alat pemuas. Jadi dapat ditarik kesimpulan bahwa sistem ekonomi kapitalis akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan keuntungan yang besar.

Lalu siapakah yang tersingkirkan dari sistem ekonomi seperti ini? Ya, sang kusir yang menjadi “pemeran” utama video inilah salah satu contohnya.

Ya benar, memang nyatanya menyedihkan melihat video viral itu. Tapi tidakkah juga menyedihkan, ketika kusir itu juga bekerja bagai “kuda”? Mungkin saja kasus ini juga berpengaruh pada anak dan istrinya (jika punya). Namun mau tak mau, ia harus hidup dalam tegasnya kejaran strandar setoran, ia hidup dalam target kerja harian dan (mungkin saja) penghasilannya di bawah upah minimum. Sangat disayangkan, ia tetap harus bertahan hidup meski kudanya sedang lelah, demi berlanjutnya kehidupan pencaharian, ia harus membuang nurani demi dapat bertahan. Saat kuda terkapar di tengah jalan dan sang kusir mencambuknya, manusia yang “perhatian” lalu merekam, dan viral-lah kasus ini.

Bahkan sekarang pengguna sosial media menggagas tanda pagar (hashtag) untuk mengentikan penggunaan delman. Bagi mereka sudah tidak ada kelayakan menggunakan hewan sebagai transportasi di era modern ini. Sekarang, dengan pandangan seperti ini, posisi mana yang menyedihkan? Kusir yang dipaksa keadaan untuk menyiksa kudanya atau kita-kita orang-orang mampu ini yang tengah mematikan hidup para pendelman? Mereka hanyalah “rantai makanan” terbawah manusisa yang diciptakan oleh sistem ekonomi kapitalis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *