Sekularisasi Barat: dari Kelahiran Humanisme Menuju pada “Dagelan Kematian Tuhan”

Para akademisi yang mengkaji tentang peradaban Barat sepakat bahwa adalah Francesco Petrach (1304-1374) yang pertama kali memenggal peradaban Barat menjadi tiga bagian besar: zaman purba, zaman pertengahan, dan zaman baru. Zaman Barat diawali dengan Roma yang berhasil direbut Visigoth (asal bangsa Jermanik) pada tahun 410 Masehi dan pada tahun 476 Masehi Imperium Romawi Barat runtuh kemudian digantikan dengan Gereja Kristen sebagai institusi politik tertinggi yang ada di Barat. Pada zaman ini, dimulailah hegemoni Gereja yang dinilai banyak mengekang masyarakat Barat yang bertentangan dengan Gereja dan bertindak brutal lewat inquisisinya (medieval torture).

Lord Acton menyindir otoritas gereja dengan menulis surat kepada uskup Mandell Creighton yang isinya,”All power tends to corrupt; absolute power corrupst absolutely”.
Sedangkan zaman tengah adalah zaman yang kita kenal sebagai zaman kegelapan (The Dark Ages), bermula dari abad kelima sampai keempat belas. Merupakan zaman dimana otoritas gereja di Barat sudah sangat brutal dan mulai tidak manusiawi. Seperti yang dikatakan oleh Karen Armstrong,”Sebagian besar kita tentunya setuju bahwa salah satu dari institusi Kristen yang paling jahat adalah inquisisi,…juga digunakan Gereja Protestan untuk melakukan penindasan dan kontrol terhadap kaum Katolik di negara-negara mereka”. Dan “Zaman Baru” ialah zaman yang dinamakannya sebagai rinascita, “zaman kelahiran semula”.

“Humanitas vocabantur, cum pars servitutis esset”. “Mereka menyebutnya (peradaban) kemanusiaan, padahal hakikatnya adalah bagian dari penghambaan. Siapa yang menghamba? Manusia. Lalu siapa yang dihambakan? Manusia itu sendiri. Zaman kelahiran kembali ditandai dengan banyaknya kajian-kajian terhadap karya seni dan sastra Yunani dan Romawi kuno. Kajian-kajian ini sangat dilarang oleh gereja. Pertrach rela dicambuk lantaran sewaktu menjadi mahasiswa di Avignon, ia mempelajari buku-buku pemikiran Romawi dan Yunani kuno. Pada tahun 1333, ia menemukan naskah Pro Archia karya Cicero yang kemudian ia pelajari. Kemudian, juga tersebut nama Poggio Bracciolini (1380-1459) yang banyak menemukan karya-karya pemikiran Yunani-Romawi, seperti kumpulan orasi Quintillan, naskah De rerum natura, karya Lucretius.
Produk awal renaissance dikenal dengan studia humanitatis, atau studi kemanusiaan.

Renaissance menggiring masyarakat Barat untuk menemukan kembali “misteri manusia yang hilang” dan “mengungkap alam semesta”. Georg Voigt menyebut renaissance sebagai era dimana para cendikiawan mulai meninggalkan “skolatisisme” dan menghidupkan kembali peradaban eropa kuno pra-Kristen, yang dinilai lebih beradab, maju, dan manusiawi.
Jacob Burckhardt melihat renaissance sebagai zaman munculnya “manusia-manusia baru” yang dengan segala keterbatasannya mengerahkan segenap kemampuannya, demi menemukan dan memanusiakan dirinya, menjelajah dan menaklukan alam, menikmati hidup, dan bahagia jiwa raganya. Definisi ini terlihat seperti ada sebuah kekangan yang hebat menimpa masyarakat Barat, yang tentunya, bertahun-tahun lamanya. Mereka merasa belum menjadi manusia yang utuh dan tidak merdeka karena tirani. Oleh karena itu, manusia renaissance cenderung skeptis dan berpandangan sekular, lepas keyakinan pada Tuhan maupun agama, mengingkari adanya kehidupan setelah kematian, dan pada akhirnya mengabaikan tata susila (nilai dan norma).

“Virtus est igitur homini cum deo similitudo, seorang humanis selalu berusaha menghaluskan jiwanya agar bisa menjadi seperti Tuhan. “tak ada makhluk semulia dan sesuci manusia”. Para Humanis merasa dirinya elit terpelajar dan cosmoplis yang menyerukan kebebasan, toleransi, dan kemanusiaan, serta (harus) melampaui segala kotak-kotak, termasuk agama. Ovid dalam Ars amatoria, I, 637,”Expedit esse deos, et ut expedit esse putemus!” (Enak kalau tuhan itu ada, supaya enak, mari kita anggap saja mereka ada). Dari sinilah kemudian lahir benih-benih atheisme dan deisme yang kemudian banyak mempengaruhi manusia di era berikutnya dan menghasilkan nama-nama besar tokoh abad pencerahan (1700-1900 Masehi).

Selanjutnya, ialah Martin Luther (1483-1546), berasal dari keluarga yang makmur. Dikenal sebagai mahasiswa (Univeristas Wittenberg, Erfurt) yang pandai dan berani. Martin Luther disepakati sebagai salah satu tokoh utama Barat era “Melawan Tirani Gereja (1500-1700)”. Ia mendalami teologi, dan menjadi anggota Ordo Agustinian. Perhatian Martin Luther banyak tertuju pada persoalan teologi gereja yang ia nilai bertentangan dengan semangat kitab suci. Luther sangat membenci dan mengkritik keras “kebiasaan” gereja saat itu yang “mengobral” pengampunan dosa. Ia terkenal dengan 95 pernyataan kritik yang ia tempelkan di pintu masuk gereja, tahun 1517. Seluruh Jerman gempar dan membuat Paus langsung mengutus utusan untuk membereskan masalah ini.

Menurut Luther, penghapusan dosa bukanlah ajaran Kristiani yang benar dan tidak perlu, karena untuk mendapatkan keselamatan hanya diperlukan (1) rujukan bible yang benar dan murni (sola scriptura); (2) kasih sayang tuhan (sola gratia); dan berkat (3) keimanannya (sola fide).
Ada tiga aspek penting yang mempengaruhi gerakan Luther. Pertama, gerakan humanisme yang berawal di Itali dan kedekatan-kedekatan Luther dengan tokoh-tokoh humanis seperti, Erasmus. Kedua, teori nominalisme—via moderna—yang membedakan antara kekuasaan mutlak tuhan (potentia absoluta) dan kekuasaan tuhan yang merupakan refleksi dari kehendaknya (potentia ordinata Dei). Dan ketiga, Ordo Agustinian, yang merupakan sebuah keniscayaan sebagai refleksi dari pemikiran teologi Martin Luther. Luther sangat mempercayai akan “ketaatan pasif”.

Sehingga manusia pada hakikatnya tidak menciptakan perbuatannya, dan “surat penghapusan dosa” bukanlah hal yang akan menyelamatkan manusia. Luther mengedepankan keimanan dibandingkan dengan logika, senada dengan ajaran Agustinus, fides quarens intellectum, percaya dahulu, mengerti kemudian.
Dua ratus tahun setelah reformasi gereja, dirasa tidak cukup mencerahkan Barat. Barat kemudian memasuki era “Pencerahan Akal (1700-1900)”. Kata-kata pencerahan, “Aufklarung” banyak tersebar di seluruh penjuru Eropa. Salah satu tulisan yang terkenal datang dari Immanuel Kant yang mengatakan “Beantwortung der Frage: Was ist Aufklarung?: Kita belum hidup di zaman yang tercerahkan, karena kita masih berada di zaman pencerahan.”

Zaman kegelapan telah membutakan dan menggelapkan akal manusia. Pencerahan akal sangat diperlukan jika manusia ingin mencapai cita-cita sejatinya, menjadi manusia yang modern, maju, dan merdeka. Pencerahan dimaknai sebagai usaha manusia untuk keluar dari ketidakmampuannya menggunakan akalnya. Pemikiran pun dialihkan yang pada awalnya fokus pada pemikiran Tuhan (Theocentrism)—yang mengakibatkan trauma—ke manusia (anthropocentrims) sebagai harapan baru. Pengetahuan tidak (lagi) melalui bible, gereja, atau pendeta, namun melalui observasi, analisis, dan eksperimen. Era ini menghasilkan individualisme, rasionalisme, dan subjektivisme sebagai produk abad pencerahan.

Tokoh-tokoh lain yang juga hidup di abad pencerahan adalah Voltaire (Francois-Marie Arouet), yang sangat gigih menentang status quo. Ia kemudian menulis kumpulan esai tentang kritik terhadap tirani dan ortodoksi berjudul Dictionnaire Philosophique; kemudian David Hume dari Inggris, dengan bukunya, Enquiry Concerning Human Understanding membangkitkan tradisi skeptisisme dan keraguan sebagai salah satu asas untuk menemukan kebenaran (ilmu). Ia membalikkan epistimologi skolastik yang menekankan “keimanan” sebagai titik tolak. Lalu Rene Descartes yang percaya pada pengetahuan manusia kepada “substansi tak terhingga” (Tuhan) dan “substansi terhingga” (akal dan jasad). Dan “materialisme” ala Paul Henri Baron d’Holbach. Ia mengemukakan pikiran manusia adalah hasil dari fisiologis otak manusia, seperti air kencing yang diproduksi oleh ginjal (sekresi). Akhlak (moralitas) dan Tuhan adalah dorongan bagi manusia utuk hidup dan berarti juga merupakan ciptaan manusia itu sendiri.

Tiga ciri khas pemikiran Barat di abad ini adalah: Pertama, paganisme. Yaitu kembali kepada ajaran-ajaran leluhur dengan tradisi-tradisi lama, ia meninggalkan tradisi agama yang dinilai bertentangan dengan logika manusia dan tidak memenuhi standar rasionalitas-natural manusia dan tuntutan etika kemanusiaan. Kedua, kritisisme. Hakikat filsafat di mata Barat saat itu ialah kritik. Barat yang “terbebaskan” mulai mengkritik semua perkara dari yang terkecil hingga perkara-perkara besar, tak tinggal, perkara-perkara metafisik. Dan ketiga, mengalihkan fokus moralitas dari verbalisme kepada realisme. Baik dan buruk harus dikaji ulang dengan cara uji coba dan disesuaikan dengan manusia. Sehingga baik dan buruk nantinya ditentukan berdasarkan pada kesepakatan-kesepakatan para manusia itu sendiri.

Perjalanan sejarah peradaban Barat kemudian sampai pada suatu peristiwa, seorang pemuda berlari-lari ke seluruh penjuru kota, berteriak dengan keras “Gott ist tot! Gott bleibe tot, Und wir haben ihn getotet! Tot sind alle Gotter, nun wollen wie, dass der Ubermensch Iebe! (Tuhan telah mati, ya, mati untuk selama-lamanya. Kitalah pembunuhnya”,”tuhan-tuhan itu sudah mati semuanya, maka sekarang kita ingin sang manusia itu super hidup)”. Pemuda itu bernama Friedrich Nietsche (1844-1900). Ia terkenal dengan semboyannya “Tuhan telah mati!”. Seorang filsuf abad baru Barat yang menerapkan nihilisme untuk mendapatkan pengetahuan.

Seperti Tuhan yang ia sebut telah mati, ia pun mati dengan penyakit kelamin yang mengenaskan dan beberapa ahli sejarah juga menyatakan bahwa Nietsche mengalami gangguan kejiwaan di akhir hayatnya. Banyak karya-karyanya mengenai nihilisme dan kritik terhadap agama, diantaranya “Also Sprach Zarathustra (1883)” dan “Der tolle mensch” Manusia Hebat.
Inilah yang dinilai sebagai abad baru bagi peradaban Barat, dikenal dengan istilah postmodernisme. Modern adalah identifikasi terhadap sejarah Barat diantara abad ke-14 sampai dengan 2000 M. Modern berasal dari bahasa latin, moderna, yang banyak dipakai sejak abad 15 M. Moderna berasal dari modo yang artinya baru saja.

Sedangkan modernisme berarti gerakan intelektual yang lahir, tumbuh, dan berkembang di era modern. Merupakan gerakan yang menjunjung tinggi akal manusia dalam mencari kebenaran dan kebahagiaan.
Era ini merupakan era keeamasan bagi masyarakat Barat dalam mengkaji pengetahuan. Ia berusaha menjelaskan alam semesta, sebut saja nama-nama yang tak asing seperti Galileo, Descartes, Kant, Darwin, hingga Immanuel Kant dan Einstein. Para ilmuwan ini kemudian banyak mengahasilkan karya-karya besar yang berhasil “mengubah dunia” tanpa sedikitpun membawa agama kedalamnya. Newton menemukan teori natural laws dimana alam semesta berjalan menurut aturan-aturan yang sedia ada.

Kemudian nama Stephen Hawkings yang berhasil mengungkap alam semesta dan berusaha (hingga saat ini) mencari “Theory of Everything”. Ia bahkan dengan lantang dan yakin menyatakan bahwa Tuhan tidak ada sangkut pautnya dengan alam semesta dalam tulisan-tulisan dan kuliahnya. Dan yang paling mengguncang dunia adalah penemuan Teori Relativitas oleh Albert Einstein yang dinilai “bertanggung jawab” atas ilmunya terhadap bom atom yang meledak di Hiroshima dan Nagasaki pada Perang Dunia II.

Modernisme juga banyak menghasilkan tokoh-tokoh yang berusaha mengkaji (kembali) manusia dari berbagai dimensi, baik akal, tubuh, dan hukum-hukum di atasnya. Lahirlah studi-studi tentang manusia baik dari skala kecil hingga skala terbesar yang berusaha memahami dengan cara rasional dan universal, ditandai dengan munculnya nama Auguste Comte (1788-1857) yang terkenal dengan teori tiga tahapan pengetahuan manusia (teologis, metafisis, dan positif). Lalu ada Karl Marx (1818-1883) dengan gagasan komunisnya lewat “Manifesto of The Communist Party (1848)”.

Karya ini telah banyak menginspirasi dan mengahasilkan pemikiran-pemikiran sosialis-komunis baru yang juga ikut serta dalam konflik besar dunia. Marx telah menginspirasi Mao Zedong untuk melakukan revolusi besar-besaran di Cina dan merengut banyak nyawa. Marx juga banyak menginspirasi para diktator-diktator dan fasis seperti Lenin, Stalin, dll. Pemikiran-pemikiran Marxis dan neo-Marxis berkembang pesat dan mencapai puncaknya di Perand Dingin yang juga banyak memakan korban jiwa dan kerusakan fisik dan non-fisik. Marx juga mengesampingkan agama sebagai sebuah materi yang eksis. Ia bahkan menyebut agama sebagai pengahalang revolusi sosial sebuah negara. Nama lain yang juga tidak kalah penting adalah Charles Darwin dengan Teori “Evolusi” dan “Seleksi Alam”.

Tidak dipungkiri, teori seleksi alam ini telah banyak menginspirasi gerakan-gerakan ultra nasionalis dan fasisme dan menghasilkan Perang Dunia dan berbagai kerusakananya (genosida, holocaust, dan lain-lain). Kebetulan atau tidak hampir semua tokoh-tokoh ini berketurunan Yahudi.
Cita-cita pencerahan seakan pudar dan malah balik lagi menciptakan “kegelapan baru” bagi Barat sendiri. Pencerahan hanya utopia belaka. Kondisi inilah yang melahirkan Postmodernisme sebagai aliran pemikiran yang (ter)baru di Barat. Postmodern kemudian berusaha mencari “apa yang salah” dari modernisme.

Secara akademis, kaum postmodern sepakat menjadikan Nietzsche sebagai panutannya. Kematian tuhan yang sudah diproklamirkan membuat manusia bebas dari segala kungkungan apapun, setiap orang berhak mengklaim kebenaran, tak ada lagi acuan, karena manusia berhak membuat acuan sendiri, semua agama sama, sehingga tak beragama pun juga benar, semuanya terserah pada kita. “tidak ada kebenaran yang absolut, benar menurut anda belum tentu benar menurut saya, setiap orang berhak menciptakan kebenaran sendiri”.

Pusat pengetahuan yang awalnya fokus pada tuhan, kemudian, berpindah kepada manusia (anthorpocentrism) kini berpindah kepada tempat yang lebih abstrak dan berpotensi untuk terus berkembang, yakni, wacana atau discourse. Berangkat dari pemikiran Nietzsche yang percaya bahwa kebenaran sebetulnya adalah hasil rekayasa dari manusia, karena bahasa yang digunakan manusia memiliki dimensi yang berbeda dari realitas itu sendiri. Oleh karena itu, untuk mencari kebenaran, fokuslah pada wacana-wacana yang dibuat oleh manusia. Pemahaman ini kemudian melahirkan metode-metode baru dalam mendapatkan ilmu pengetauan. Era ini merupakan era tumbuh dan berkembangnya studi Hermeneutika dan dekonstruksi sebagai metode penafsiran yang dinilai tepat.

Tersebutlah Michel Foucault (1926-1984) dalam karyanya L’archeologie du savoir (The Archeology of Knowledge), Truth and Power, History of Sexualty, dll. Foucault berpendapat bahwa manusia modern membangun ilmu pengetahuan untuk menguasai, mengendalikan, dan memperalat “yang lain” sehingga tidak ada pengetahuan yang asli objektif seratus persen. Tugas seorang intelektual (postmodernist) adalah membongkar bangunan-bangunan ilmu pengetahuan tersebut sehingga ditemukan kebenaran yang baru dibalik bangunan-bangunan tersebut. Hal ini memperkuat pandangan bahwa kebenaran hanyalah wacana semata. Kebenaran suatu wacana diungkap dan dibongkar dengan metode dekonstruksi. Foucault lebih dikenal dengan pendekatan arkeologi dan genealoginya. Foucault semakin terkenal setelah mengkaji sejarah seksualitas di Barat dan melahirkan The History of Sexuality.

Ia berusaha meyakinkan bahwa praktik homoseksual merupakan bawaan dari lahir manusia dan tidak bisa diubah kodratnya. Perkara homoseksualitas itu salah/benar hanya permasalahan sejarah saja. Foucault yang juga seorang homoseks meninggalkan dunia ini dengan penyakit HIV/AIDS pada tahun 1986.
Selain itu, tokoh dengan aliran pemikiran yang sama, Jacques Derrida (1930-2004). Derrida lah yang terkenal dengan metode “dekonstruksi”nya. Derrida menjelaskan bahwa dekonstruksi bukanlah sebuah metode ilmiah ataupun teori. Dekonstruksi adalah strategi membaca wacana dengan memperhatikan kontradiksi-kontradiksi yang terdapat pada struktur-struktur pembangun sebuah wacana.

Ia bagaikan double reading untuk membebaskan diri dari ambiguitas-ambiguitas kata. Oleh karena itu, era postmodernis yang terkesan “liar” dan “tanpa aturan (the rule is no rule)” banyak melahirkan keliaran-keliaran baru yang sebenarnya ratusan tahun yang lalu dikecam dan dianggap sebagai sesuatu yang salah, hina, dan terkutuk. Lihat saja di Barat saat ini begitu marak praktek-praktek homoseksual, lesbianisme, atheisme, dan pluralisme agama. Kebenaran menjadi bias dan justru membingungkan manusia. Anehnya, pemikiran-pemikiran ini justru “dipaksakan” untuk diterapkan di Timur yang sama sekali tidak punya problem terhadap agama.

Contoh saja Turki yang menjadi sekuler di masa Kemal Ataturk—dengan dasar ingin maju seperti Eropa yang sekuler—juga tidak bisa disamakan dengan kemajuan negara-negara Eropa dari tingkat ekonomi dan ilmu pengetahuan saat itu. Bahkan saat ini di masa Erbagan kemudian Erdogan, Turki mulai kembali “merelijiuskan” dirinya dan justru Tukri yang relijius malah menyalip negara-negara Barat baik dari segi ekonomi, stabilitas politik-keamanan dan teknologi.

Wacana postmodernisme berangkat dari tiga hal: Pertama, manusia tidak pernah bisa mengetahui realitas, sehingga mustahil mencapai kebenaran. Kedua, realitas tidak akan bisa diketahui oleh manusia karena manusia terpenjara oleh bahasa (wacana) karena tanpa disadari, bahasa telah membentuk pikiran sebelum berpikir. Ketiga, wacana membentuk (membangun) realitas sehingga ontologi bergantung pada siapa yang membentuk bahasa (wacana) tersebut.
Renungan terhadap Sekularisasi dan Liberalisme
Trauma massif ini melahirkan Renaissance, sebagai bentuk pencerahan terhadap umat manusia yang merasa disiksa oleh agama (Kristen dan otoritas gereja) mencipatakan tiga kelompok dalam memandang agama.

Pertama, ingkar kepada Tuhan saja (ateis), ingkar pada Agama saja (infidel) dan ada yang menolak pengetahuan tentang Tuhan secara eksistensiNya sekaligus (agnostic atau ragu-ragu). Agama dipandang sebagai hal yang dibenci karena mengekang kebebasan, termasuk Islam yang telah membawa Eropa menuju zaman keemasananya oleh Barat sampai saat ini dipandang sebagai musuh, baik secara pemikiran maupun secara politik.
Berdasarkan rentetan sejarah pemikiran yang berkembang di Barat dari abad awal hingga saat ini telah menunjukkan bahwa terdapat sejumlah problem yang dirasa perlu untuk dipahami betul dalam menjawab fenomena sekularisasi yang ada di Barat.

Dr. Adian Husaini, seorang pakar intelektual pemikiran Islam tahun 2005 menulis sebuah buku yang berjudul “Wajah Peradaban Barat: dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekuler-liberal”. Ia menulis satu bab khusus tentang tiga faktor penyebab berubahnya Barat yang semula sangat relijius (dengan Kristiani sebagai agama resmi) menjadi Sekuler-Liberal. Selain itu di dalam buku tersebut juga dipaparkan mengenai penyebaran sekularisasi dan liberalisme yang semulanya di Barat saja, dipaksakan ke seluruh penjuru dunia lewat berbagai konstelasi politik dan ekonomi. Adian Husaini juga menawarkan teori-teori resolusi konflik antar agama serta analisis penyebab terjadinya konflik.

Terdapat tiga alasan utama mengapa Barat memilih untuk menjadi sekuler dan “membunuh tuhan” diantaranya: Pertama, trauma sejarah, khususnya yang berhubungan dengan dominasi agama di zaman pertengahan; Kedua, problem teks Bible; dan Ketiga, peroblem-problem pada perkembangan teologi di Barat. Tiga problem ini sangat berkaitan satu dengan yang lainnya, sehingga memunculkan sikap traumatis terhadap agama, yang pada ujungnya melahirkan sikap berpikir sekular-liberal dalam sejarah tradisi pemikiran Barat. Permasalahan utama memang terletak pada sejarah kelam Barat terhadap agama. Sebuah masalah yang tidak pernah Timur rasakan.

Simpulan
Lewat senjata konstruksi (bahasa, sastra, retorika, dan pemahaman sejarah) dan rekayasa sosial yang masif (great ideas, great personality, and good systems), Barat kemudian mensekulerkan dirinya. Namun tetap saja Barat (Yunani-romawi dan Judeo-Kristiani) tidak dapat meninggalkan jati diri aslinya. Belajar imperium dari Romawi telah membuat Barat tetap ingin mendirikan imperium besar di dunia dengan berlandaskan pada filsafat Yunani kuno yang rasional dan empiris dan berusaha untuk tetap mempertahankan dominasi dan hegemoni lewat suatu institusi yang ia dapat belajar dari peradaban Judeo-Kristiani.

Tulisan ini telah menjawab pertanyaan “mengapa Barat menjadi sekuler?”. Problem sejarah Barat sendirilah yang mengantarkan Barat pada sekularisasi dan liberalisme. Timur yang tidak pernah mengalami trauma sejarah akan agama dirasa tidak perlu ikut-ikutan mensekulerkan diri seperti Turki, Iran, dan Mesir.
Manusia pada hakikatnya memiliki banyak keterbatasan, namun ada sesuatu yang tidak memiliki batas di dalam diri manusia. Islam menyebutnya sebagai hawa nafsu (lust; desire; passion). Jika manusia tidak ingin tunduk dengan Tuhan, lalu mengklaim telah membunuhnya.

Sesungguhnya manusia tidak membunuh Tuhan, ia malah membunuh dirinya sendiri dan menjadikan dirinya hamba, bukan hamba dirinya sendiri (seperti yang para Humanis katakan), melainkan menjadi hamba hawa nafsunya sendiri. Manusia mana yang bisa membunuh hawa nafsunya? Kita tidak membunuhnya, kita berlindung darinya. Karena hanya ada dua pilihan, menjadi hamba Tuhan atau hamba Hawa-nafsu; (Syaithan)?

Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *