Mengenal Islam di Institut Kesenian Jakarta

IMPRESI PERTAMA IKJ
Di tulisan ini, saya akan berbagi tentang bagaimana saya melihat, merasakan dan mengenal Institut Kesenian Jakarta. Tidak akan anda temukan pembahasan tentang pelajaran atau ilmu-ilmu yang dibagi oleh institut ini, yang akan anda temukan dalam tulisan ini adalah gambaran kehidupan sosial dan ide-ide orang di dalamnya.

Bedasarkan pencarian sederhana, pengalaman, dan opini saya akan berbagi; Institut Kesenian Jakarta (IKJ) adalah institut seni satu-satunya yang ada di pusat Jakarta. Secara ilmiah, IKJ sudah sanggup menjadi pionir kemajuan seni dan industri seni di Indonesia maupun internasional dengan berperan sebagai sentral adicita, juga sentral bagi perkembangan dan pertumbuhan seni tradisi maupun kontemporer dalam negeri.

IKJ ialah hasil tumbuh-kembang dari Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang diprakasai Ali Sadikin (Gubernur DKI Jakarta tahun 1970) di bawah Yayasan PKJ. Tepat di 1985, LPKJ dirubah namanya menjadi Institut Kesenian Jakarta atau IKJ yang hingga kini telah berusia 40 tahun. Sampai kini, IKJ yang dinaungi secara resmi oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan mengamalkan Tridharma Perguruan Tinggi secara penuh pada pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Di sini, muda-mudi dilatih dan diajar berkesenian untuk menghadapi hari-hari depan mereka, juga agar menentukan masa depan kesenian di Indonesia. IKJ memliki tiga fakultas yang menjadi pilar-pilar penegak bagi IKJ itu sendiri, fakultas-fakultas itu adalah; Fakultas Film & Televisi (FFTV), Fakultas Seni Rupa (FSR), dan Fakultas Seni Pertunjukan (FSP).

MEMASUKI & MERASAKAN IKJ
Pada tahun 2012 saya memasuki Fakultas Film & Televisi di IKJ, pilihan ini didasari gairah saya untuk menjadi sineas dengan ilmu yang mumpuni. Tahun demi tahun saya berada di IKJ, proses pengenalan saya yang sederhana menjadi berkembang jauh lebih dalam terhadap kampus ini. Selain mendapatkan ilmu yang saya senangi di sini, saya juga mendapatkan atmosfir berkesenian yang kental di IKJ, disaat bersamaan saya mencoba mengenal orang-orang didalamnya, dari sekedar mengenal sisi luar hingga mengenal ideologi-ideologi yang hidup di kampus ini.

Pada awal saya masuk, saya bukanlah orang yang telah memutuskan apa ideologi saya, tapi dengan pencarian melalui membaca buku-buku maka saat itu kecondongan saya ada di Islam (sebelumnya saya plural & liberal tanpa sadar). Di IKJ memiliki banyak ideologi yang hidup di dalamnya, sangat heterogen, tapi bedasarkan pengamatan saya pribadi ideologi-ideologi yang mengungguli kampus ini adalah; pluralisme, liberalisme, & sekularisme. Menjadi pemula dalam Islam, belajar hanya melalui buku-buku dan hidup dilingkungan yang tidak memilih Islam sebagai Ideologi membuat saya gelisah, karena bagi saya belajar itu berguru, bukan hanya berbuku.

MENGENAL MIMAZAH-IKJ & MESJID AMIR HAMZAH
Mesjid Amir Hamzah yang saat itu bersebelahan dengan gedung rektorat IKJ menjadi tempat saya beribadah, sebab masjid itu pula lah saya mengenal bahwa ada sekelompok anak IKJ yang mengaji di sana. Di ajak oleh teman saya, saya juga ikut mengaji, hanya ada lima orang yang mengaji di masa-masa itu, tapi sebab dari mengaji itu saya tahu bahwa ternyata IKJ memiliki Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak sebagai Lembaga Dakwah Kampus (LDK) bernama MIMAZAH-IKJ (Mahasiswa-mahasiswi Masjid Amir Hamzah – Institut Kesenian Jakarta), sayangnya LDK yang telah ada sejak 1970an itu ternyata telah mati suri. Saya bersama 5 orang teman saya ini orang-orang yang mencoba menghidupkan kembali LDK ini. Diketuai oleh RIjal Robbani, saat itu kami mencari dan membentuk jaringan, memang saat itu perkembangan berjalan lambat, tapi tetap bertumbuh. Mahasiswa baru dari tahun 2013, juga menjadi pendukung perkembangan kami, dari sekedar 5 orang penggerak dengan perlahan kami menjadi sekitar 10 orang dan terus meningkat.

Di tahun 2013 itu bukannya tanpa tantangan, renovasi besar bangunan kampus kami sedikit banyak mempengaruhi pergerakan LDK yang tengah kembali dirintis ini. Kami harus pindah sementara ke Cempaka Putih di sekitaran YARSI selama 2 semester, tapi itu bukanlah masalah seungguhnya. Masalah sesungguhnya adalah; Mesjid Amir Hamzah yang menjadi pusat gerak kami diputuskan akan dirobohkan, dan dijanjikan untuk dibangun kembali dalam 2 tahun, dan untuk sementara kegiatan mesjid dipindahkan ke ruang parkir bahwah tanah yang ada di bawah Gedung Teater Jakarta.

Dengan pandangan positif pada Pemda DKI saat itu kami bersabar dan menunggu 2 tahun yang dijanjikan. Dengan kondisi yang begitu kami terus berjalan, pada tahun 2014 kami membuka open recruitment untuk mahasiswa-mahasiswi baru, dengan branding yang lebih direncanakan, dan promosi yang kekinian kami mendapat sekitar 30 orang yang mendaftar masuk ke MIMAZAH-IKJ, walaupun kami tahu dalam perjalanan waktu, jumlah mereka-mereka yang akan tetap ada di LDK ini akan berkurang, sebab bagaimana bisa kami menahan mereka dari paparan ideologi mayoritas di kampus ini dengan tekanan dan tantangan yang begitu beragam. Cara-cara unik kami tempuh dari postingan di media sosial, hingga meminta izin untuk presentasi di kelas mata-kuliah Agama Islam, pada 2015 kami mampu mengembangkan jumlah anggota LDK ini.

Tahun 2015 adalah tahun yang dijanjikan, tapi boro-boro pembangunan mesjid, penjelasan secara resmipun tak kami dapatkan. Sejak 2014 kampus IKJ telah kembali pindah ke tempat asalnya (Taman Ismail Marzuki), tanah bekas masjid Amir Hamzah itu telah digunakan untuk perluasan bangunan Fakultas Film & Televisi (lebih tepatnya menjadi bagunan kecil untuk gardu distribusi listrik). Fungsi mesjid terus dijalankan di ruang parkir bawah tanah yang tadi saya sebutkan. Segala gejolak yang terjadi menjadi sia-sia, sebab kami hanyalah kelompok kecil tanpa kuasa. Tapi tetap selalu ada sisi baik, 2015, 2016, 2017 akan selalu kami dapatkan perkembangan jumlah peseta open recruitment, walau masa mengikis jumlah mereka-mereka yang bertahan, tetapi selalu tersisakan orang-orang dengan loyalitas, dan keinginan luhur untuk mencari ilmu Islam di linkungan seni ini.

Di 2017 ini Mesjid Amir Hamzah mulai kembali dibangun, diletakkan di sisi depan Taman Ismail Marzuki, dengan luas bangunan 8m x 8,5m (menyedihkan bukan?), ini bukan hanya jauh lebih kecil dibanding bangunan sebelumnya (perkiraan saya saat itu luasnya; 16m x 20m), bahkan ini lebih kecil dibanding mesjid sementara yang ada di ruang parkir bawah tanah.

TREN ANAK PESANTREN MASUK IKJ
Percaya atau tidak, dimulai dari 2013 hingga kini ada tren anak pesantren memilih masuk IKJ, khususnya di Fakultas Film & Televisi. Pada awal saya masuk di tahun 2012, melihat wanita berhijab adalah kelangkaan, tapi kini jangankan hijab, setidaknya ada 2 orang mahasiswi berniqab (cadar) yang saya temukan di IKJ. Pria-pria lulusan pesantren juga ramai memilih belajar di IKJ. Mungkin sebab ada tren sinema muslim akhir-akhir ini yang berkembang secara independen di luar IKJ. Dengan keinginan besar lulusan pesantren untuk belajar sinema (ataupun seni secara luasnya), membuat mereka mencari dan menemukan IKJ. Kedatangan mereka ke IKJ ini juga membantu MIMAZAH-IKJ dapat di kenal kembali di kampusnya sendiri, mereka menjadi agen-agen yang merepresentasikan Islam, dengan segala kekurangan dan kelebihannya mereka mencoba bertahan.

Keberadaan anak-anak lulusan pesantren ini adalah awal cerah bagi Islam di IKJ, dibalik citra kolot dan tidak seru di pandangan sebagian mahasiswa-mahasiswa terhadap Islam, mereka menghidupkan Islam dilingkungan yang saya pandang dimayoritasi orang-orang berideologi pluralisme, liberalisme dan sekularisme.

MUSLIM AWAM
Jangan dikira LDK yang sedari tadi kita bahas diisi orang-orang yang memiliki pengetahuan Islam yang dalam, banyak sekali dari pengurus dan anggota LDK ini masih awam dan tidak memiliki akses ilmu yang banyak pada Islam, lulusan-lulusan pesantren yang masuk ke MIMAZAH-IKJ masih lebih kecil dibanding mahasiswa-mahasiswa yang masuk LDK untuk menjaga diri dan memilah bergaulan saja. Jangan bayangkan mereka-mereka ini orang-orang yang paham dengan konsep tauhidullah, atau worldview of Islam, atau juga mengerti seperti apa itu ghazwul fikri, mereka hanyalah pemuda-pemudi yang datang dengan ghiroh menjaga diri yang tinggi. Sebab, masih berkutat di perhihal-perihal masalah fisik, sehingga proses pengembangan ilmu tidak terlalu berjalan lancar, sehingga saya dan beberapa teman harus mencari keluar untuk mendapat ilmu Islam yang lebih, saya dan teman saya memilih ikut Sekolah Pemikiran Islam Fatahillah, dan beberap teman yang lain memilih mencari di tempat lain. Yang menjadi keresahan saya, adalah generasi-generasi beberapa tingkat dibawah saya, mereka harus mendapatkan ilmu Islam yang baik, tapi mereka belum dapat difasilitasi oleh LDK ini, ya sebab gerak LDK ini masih saja terus menerus berkutat di masalah-masalah fisik.

MUSLIM, JANGAN RAGU MASUK IKJ
Di luar IKJ, tepatnya beberapa warga DKI Jakarta, termakan citra buruk soal narkoba, kekerasan, dan lainnya yang disematkan pada mahasiswa-mahasiswi IKJ. Bagi saya itu hanyalah sisi masa lau IKJ, yang dicitrakan terus menerus dan turun menurun, sehingga para orangtua ragu memasukkan anak-anaknya berkuliah di IKJ. Saya beranggapan ilmu-ilmu di IKJ diperlukan muda-mudi Muslim, untuk membangun peradaban Islam yang baik. Mari kita ambil saja contoh ilmu sinema misalnya; Mari kita menelaah, saat kita menonton Monster Inc., apakah kita sadar kita sedang belajar bahwa monster itu baik dan manusia bisa saja berkerabat dengan monster. Atau ketika kita menonton Maleficent, kita melihat bagaimana penyihir merupakan sosok pengasih dan dapat mengasihi sesama. Ada juga film berseri The Hunger Games yang dengan detil mengajarkan kita untuk memicu pemberontakan.

Terdapat banyak lagi informasi-informasi yang kita serap saat kita merasa hanya sekedar menonton sebuah hiburan, semisal liberalisme yang budayanya sudah kita pelajari sejak kecil melalui rupa-rupa film. Film-film Hollywood-lah yang memaparkan kehidupan berpacaran dan kehidupan seks di luar pernikahan. Pada film untuk kategori anak saja, bisa kita dapati adegan berpacaran, begandengan tangan, bahkan berciuman. Melalui film-filmnya, Hollywood mulai menyamaratakan budaya dunia dengan budaya yang dibangunnya melalui film. Untuk menyeimbangkan sudut pandang yang telah terarahkan oleh Hollywood, kita tidak dapat menutup mata dan memilih diam, dan kita juga tidak dapat berpikir film hanya sebuah hiburan. Semua informasi yang terpaparkan oleh sebuah film benar-benar mempengaruhi seluruh aspek hidup manusia.

Atas hal-hal yang telah disampaikan di atas, kita perlu untuk membangun suatu industri film yang sama kuat dengan Hollywood. Dengan style dan budaya sendiri kita perlu meng-counter sudut pandang yang disebarkan oleh Hollywood terhadap masyarakat kita. Mungkin kita tidak dapat langsung membuka pemikiran semua orang atas apa yang telah dilakukan oleh Hollywood, tapi kita dapat menyeimbangkan sudut pandang dunia yang telah diarahkan oleh Hollywood.

Indonesia memiliki beberapa sekolah film, dan di seluruh dunia terdapat banyak sekolah film. Pemuda-pemudi berbakat Muslim perlu diarahkan untuk belajar film. Namun selain belajar film, mereka juga harus memperkuat keilmuan Islamnya secara ideologi, ini diperlukan karena dalam industri film dunia, sudut pandang Islam-lah yang paling jarang dipaparkan dengan benar. Pada beberapa tahun terakhir, pembuat film Indonesia sering membuat film bersudut pandang Islam, namun banyak juga film-film tersebut memaparkan hal-hal rancu. Itu disebabkan karena pembuat film bisa saja berkulitas dalam pemahaman memproduksi film, tapi banyak yang membuat film untuk kebutuhan industri saja, hanya untuk mendapatkan jumlah penonton yang banyak, tetapi lalu mengabaikan kedalaman ideologis sebuah film.

Tidakkah hal-hal diatas menggelisahkan? Maukah kita membiarkan generasi-generasi di depan terus-menerus menjadi konsumen propaganda Ideologi yang dilakukan industry besar seperti Hollywood? Islam dan seni seharusnya bersatu, Islam perlu memanfaatkan seni untuk berjuang dan berdakwah, dan denga ilmu yang baik tentu menghasilkan dakwah yang baik, Insyaallah. Muslim & muslimat, saya mohon jangan ragu masuk IKJ, kalian perlukan ilmunya.

Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *