(Analogi) Islamisasi di Sekitar Kita

Kita makan pagi, makan siang, dan makan malam, alhamdulillah. Baik itu makan pakai sendok, maupun dengan jemari tangan, alhamdulillah. Baik makan sendiri, maupun disuapi, alhamdulillah. Makanan masuk ke mulut, lanjut ke kerongkongan, terus ke lambung, alhamdulillah. Tapi bukan soal makanannya yang jadi pokok pembicaraan kali ini. Halal dan thayib, sudah jelas panduan umumnya. Makan dengan tangan kanan, berdoa sebelum makan, menghabiskan makanan agar tidak mubazir, sudah jelas juga tuntunannya. Tapi sekali lagi, bukan itu pokok pembicaraan tulisan kali ini.

Kita akan melihat kembali, bagaimana ketika makanan masuk ke dalam tubuh. Nyatalah, tidak semua yang masuk itu diserap. Tidak semua mie instan, gorengan, donat, chiki, tahu bulat (untuk menyebut beberapa contoh makanan yang debatable ke-thayib-annya) yang masuk ke dalam perut akan diserap semuanya. Tidak semua nasi uduk, nasi kuning, nasi ulam, nasi kebuli, nasi bakar, nasi goreng, akan diserap. Ada bagian yang dikeluarkan, baik itu sebagai urin ataupun tinja, ataupun melalui saluran sekresi lainnya. Yang bisa menjadi racun dan membahayakan, itulah yang dikeluarkan. Sedangkan yang menjadi nutrisi, disebar melalui darah ke seluruh penjuru tubuh. Bahkan darah ini pun ditapis pula dalam ginjal, juga dalam jantung dan paru-paru di mana oksigen dan karbondioksida bertukar tempat. Bahkan dalam kegiatan hidup bernama “makan” pun, tubuh punya mekanismenya sendiri. Itulah mekanisme yang sudah digariskan oleh Tuhan Yang Maha Pencipta. Mekanisme itu sama bagi semua manusia. Betapa Tuhan Maha Pengasih, Maha Rahman.

Tak hanya pada manusia, pada hewan pun demikian pula. Tak hanya pada kedua jenis makhluk hidup itu, pada tumbuhan pun begitu juga. Betapa banyak unsur di tanah, di air, di udara, sementara yang diserap tumbuhan ialah yang sedapat mungkin bermanfaat bagi menumbuhkan dirinya, bukan meracuni atau mematikan dirinya. Jadi, aktivitas menyaring dan membuang ialah perihal alamiah saja dalam kehidupan. Karena dengan proses demikianlah hidup menjadi lestari. Sebab kalau itu tidak terjadi, justru akibatnya malah membahayakan, malah bisa jadi fatal mematikan.

Demikianlah kiranya Islamisasi juga sewajarnya menjadi alamiah saja bagi kehidupan umat Islam. Jika mekanisme di atas terjadi melalui reaksi kimia dan fisika, dalam ruang biologis. Maka Islamisasi pertama-tama terjadi melalui reaksi epistemologis dalam ruang aql dan ruang qalbu. Bahkan dalam islamisasi, prosesnya sewajarnya berlangsung secara lebih ketat lagi, karena sebelum pemahaman-pemahaman dan pengetahuan-pengetahuan dari luar itu keburu dicerna, sebelum masuk, mereka wajib lebih dulu dipilah dan dipisah. Tak ubahnya seperti kita kala menemukan kerikil atau lalat, bahkan kecoa mungil dalam sepiring makanan. Bukan hal aneh jika demi kehati-hatian, keseluruhan “makanan” itu kita tolak sepenuhnya. Daripada keracunan tokh atau berdampak buruk bagi kesehatan yang telah diamanahkan Tuhan. Bahkan jauh sebelum dimasak, amatlah biasa memisahkan kotoran dari beras, agar yang ditanak benar-benar terpilih. Tentu ini tadi “hanyalah” analogi-analogi, bersikap hati-hati dan waspada dalam urusan jasmani saja sudah biasa, apalagi dalam urusan intelek dan ruhani, yang menentukan bukan hanya dunia, tapi juga akhirat kita.

Ibrahim melihat bulan, bintang, dan matahari, lantas mencari dan menemukan Tuhan, dengan bimbingan wahyu-Nya. Tapi bukan aneh pula jika ada orang melihat ketiga benda langit itu lalu malah menjadi atheis, serta berbalik menuhankan semesta raya, tanpa tiba pada pengakuan bahwa Allah SWT adalah Tuhan Maha Pencipta. Objeknya sama, tapi buah pikirnya berbeda. Sebut saja Udin dan Mathius (keduanya bukan nama sebenarnya dan fiktif saja sebetulnya). Udin murid ngaji Ustadz Solihin di mushala pinggir gang di Kampung Melayu, misalnya. Ketika sore mampir membaca di lapak buku bekas, ia kagum membaca teori Big Bang, black hole, rasi bintang, dan persebaran galaksi, kemudian mengucap tasbih serta takbir. Tapi Mathius siswa elementary school di kota New York misalnya, malah tak menemukan Tuhan di dalam pengetahuan astronomi seperti itu. Tuhan saja tak ketemu, apalagi agama. Perihal yang disaksamainya sama, tapi kesimpulannya berbeda.

Ketika Rasulullah melihat Umar bin Khathab membawa Taurat, maka Rasulullah mengoreksi melalui sabdanya. Tapi ketika melihat warga menyilangkan pohon kurma, Rasulullah menerima. Ketika gerhana dipersepsi sebagai peristiwa irasional, Rasulullah meluruskannya. Menghadapi pengetahuan jahiliyah tercermin dalam amal kebiasaan mengubur hidup anak perempuan, ketimpangan dan perbedaan kedudukan antara budak-majikan miskin-hartawan, Rasulullah merombaknya dan memimpin perubahan. Tapi ketika memimpin Madinah dan mendapati kemajemukan di sana, Rasulullah jugalah yang memerintahkan sahabat untuk menguasai ragam bahasa penduduk yang ada.

Ketika pasukan di masa khalifah Umar ra dengan gemilang menaklukan Persia, mereka membawa rampasan perang mahkota dan pakaian kebesaran Kisra. Umar ra menunaikan janji yang pernah disampaikan Rasulullah kepada seorang warganya. Itulah janji Rasulullah, janji yang dilanjutkan dan ditunaikan Umar ra, bahwa kelak si warga akan berkesempatan untuk memakai mahkota dan jubah Kisra. Kendati rampasan perang sedemikian banyak dan wawasan kemegahan terpampang di depan mata, sejarah mencatat Al-Faruq sendiri hidup dalam kesederhanaan yang amat sangat.

Tapi Umar ra pula yang mengadaptasi dirham dan dinar dalam sistem keuangan umat Islam. Dan itu tidak masalah. Amirul Mukminin itu mengetahui mana yang harus ditinggalkan, dan mana yang layak diambil. Seperti ditegaskan para tabi’in, hikmah adalah milik kaum mukminin yang hilang. Dengan demikian, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin, sudah punya kesiapannya sendiri dalam berinteraksi dengan segala rupa kebudayaan dan peradaban. Sebagaimana kian dibuktikan berabad kemudian, dari rahim Islam lahirlah tradisi keilmuan yang tidak grogi, malahan antusias ketika menghadapi alam ciptaan-Nya sebagai kitab terbuka, serta tidak menutup mata, malahan berpikiran terbuka ketika mengkaji kalam-Nya sebagai kitab yang terfirman.

Proses Islamisasi itu sendiri pada pelaksanaannya terjadi seiring interaksi umat Islam dengan berbagai rupa kawasan dan kebudayaan, melalui berbagai pencapaian futuhat kemenangan. Kian banyak terbuka kepada pintu Islam, masuk ke dalam pintu tauhid. Prof Dr Raghib As-Sirjani menjelaskan dengan tepat. “Patut disebutkan di sini, pembuka jalan kepada bangsa lain bukan berarti membuka secara membabi buta. Hal itu disesuaikan dengan nilai-nilai dasar kaum Muslimin, dan apa yang ditetapkan agama mereka yang lurus. Kaum muslimin telah membuka pintu peradaban Yunani, tapi mereka tidak mengambil undang-undang mereka dan tidak pula menerjemahkan khurafat-khurafat, tidak juga mengambil adab-adab atheis Yunani. Mereka mencukupkan pengetahuan pembukuan diwan-diwan dan terjemah ilmu alam. Sebagaimana terjadi pada peradaban Persia, mereka menjauhi pendapat yang rusak dan hanya mengambil pelajaran–sebagai suatu contoh–dari adab Persia dan tata tertib negara menurut mereka. Sebagaimana pula mereka membuka jalan peradaban India tapi tidak mengambil filsafat dan agamanya. Mereka mengambil ilmu hisab (hitung) dan astronomi, memelihara dan mengembangkannya.”

Jika berbicara interaksi antar-peradaban terasa terlalu kompleks dan njelimet, contoh nyata Islamisasi itu ada di rak buku atau ponsel kita. Isi Al-Qur’an yang kita baca saban bakda Maghrib atau bakda Shubuh atau kapan saja di tempat-tempat yang semestinya pun, tak lain merupakan perwujudan nyata Islamisasi. Seperti dibuktikan oleh Profesor Syed Naquib Al-Attas, bahwa hal pertama yang dilakukan Al-Qur’an adalah merombak struktur makna konsep-konsep kunci dalam bahasa Arab pra-Islam, memberinya makna baru, dengan menempatkannya dalam totalitas struktur pandangan-dunia yang juga sama sekali baru, pandangan-dunia atau pandangan-hidup atau pandangan-alam Islam (the worldview of Islam).

Pembuktian Al-Attas tersebut didasari pemahaman yang kokoh, bahwa sesungguhnya ilmu itu buknalah sesuatu yang bebas-nilai. Seperti halnya makanan dan minuman punya komposisi dan nilai kandungan gizinya, begitu pula dengan ilmu yang sarat mengandung nilai-nilai. Seperti halnya makanan dan minuman sebagai objek fisik juga diatur standar halal dan thayibnya dalam Islam, maka ilmu sebagai obyek non-fisik pun tumbuh dengan standar pandangan-alam Islam.

Kembali ke pengantar kita di awal tadi, tentu kita memahami pula, bahwa pada kenyataannya, manusia, hewan, dan tumbuhan pun bisa sakit. Manusia keracunan. Hewan kena virus. Tumbuhan diserang hama. Zat yang dalam jumlah sedikit tidak berbahaya, nyatanya menjadi potensi buruk ketika dalam jumlah besar. Peristiwa serupa inilah yang juga melanda bangunan keilmuan umat Islam.

Ilmu yang sedari asalnya disusun di atas fondasi wahyu, menjadi goyah kalau bukan hancur lebur, karena konsep wahyu disudutkan oleh pemikiran impor yang memang tak-ramah wahyu. Tambah lagi dengan banyaknya virus-virus yang masuk. Entah dalam rupa sekularisme, rasionalisme, dualisme, humanisme, hingga konsepsi tentang tragedi. Peliknya, jika untuk mengamati bakteri dan virus butuh mikroskop khusus dan pengetahuan khusus untuk bisa mengenali dan membedakan virus satu dengan yang lain, maka dibutuhkan pula mikroskop epistemologis dan worldview khusus untuk dapat mengenali isme-isme asing itu. Jika tak kenal, maka tak benci dan tak bisa menolak hal-hal yang mudarat.

Jika dalam skala sel darah saja ada leukosit dengan peran protektifnya, apa jadinya jika dalam skala peradaban, leukosit epistemologis itu diabaikan. Akibatnya tubuh keilmuan umat Islam jadi rapuh dan keropos. Yang semestinya dicegah masuk karena tidak kompatibel dengan Islam, malah diambil dan dipaksakan di-arus-utama-kan dalam pembuluh darah hidup keseharian. Tak heran jika pusing dan kebingungan berulang seolah tak-berujung pun melanda pikiran dan perasaan umat di berbagai bidang. Mengabaikan, meninggalkan, atau menanggalkan Islamisasi sama saja dengan mendzalimi diri sendiri. Tak jauh beda ketika pemikiran diabolik mebisiki telinga Adam ‘alaihisalam hingga melanggar dan terkena akibatnya, bisa jadi pemikiran diabolik itu mengendap lama tanpa kita sadari. Lebih pantaslah kita berdoa di tengah kelalaian yang mungkin terjadi selama ini, rabbana dzalamna anfusana

Jika harus kita simpulkan dalam satu kalimat, maka kita meyakini bahwa islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer adalah ikhtiar yang alamiah dan wajib dikerjakan secara sungguh-sungguh. Sebagaimana makan minum berkaitan dengan hidup matinya makhluk hidup, maka Islamisasi berkaitan dengan jatuh bangunnya peradaban Islam. Wallaahu a’lam bishshawab.

Referensi:
As-Sirjani, Raghib. 2011. Sumbangan Peradaban Islam Pada Dunia. Jakarta: Al-Kautsar. Hlm 51.
Al-Attas, Syed Muhammad Naquib. Konsep Pendidikan dalam Islam. Suatu Rangka Pikir Pembinaan Filsafat Pendidikan Islam. Bandung : Penerbit Mizan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *