Menemukembali Zubaedah

Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Nyaris setiap bulan ada peringatan hari besar nasional (PHBN) yang asal-usulnya terkait kepahlawanan pada masa silam. Tapi bagaimana dengan seorang puan bernama Zubaedah? Agaknya bukan cuma tak dihargai, malah mungkin dia tidak kita ingat lagi.

Padahal namanya dulu rutin disandingkan dengan nama Arief Rachman Hakim (ARH) sebagai pahlawan Ampera. Tapi mengapa ia tak diperkenalkan sebagaimana kebanyakan kita kini mengetahui ARH. Apakah dia hadir di buku-buku pelajaran? Diakah yang sempat dikenang tak berapa lama, untuk dilupakan selama-lamanya? Dialah gadis bernama Zubaedah. Ada ribuan mungkin berjuta Zubaedah di dunia. Tetapi gadis yang raib setelah rubuh rebah pada aksi demonstrasi 51 tahun silam, hanya satu Zubaedah.

Setengah abad terlewati, rezim berganti, pejabat daerah suksesi berkali-kali, idola tak lagi sama di televisi, sekolah dan perguruan tinggi sudah melahirkan sekian lapis generasi, tapi kereta sejarah negeri ini terus melaju sembari meninggalkan Zubaedah seorang diri. Dia bagai keping sejarah yang tercecer. Dialah sosok siswi muslimah, pahlawan yang tak terikuti, tak terperingati. Padahal keringat dan darahnya bersimbah pula di muka bumi Indonesia ini.

Basah peluh dan merah lukanya sungguhlah nyata. Zubaidah bukanlah tokoh fiktif yang direka-reka. Namanya jelas direkam oleh para saksi sejarah. Aktivis 66 Christianto Wibisono (1970: 69) menyatakan, “dokumentasi dan kesaksian M. Husnie Thamrin tentang misteri Zubaedah merupakan fakta yang tak terbantah.” M.H. Thamrin yang dimaksud ialah ketua umum Pelajar Islam Indonesia (PII) pada tahun 1966. Thamrin juga pendiri KAPPI (Kesatuan Aksi Pemuda Pelajar Indonesia) yang dibentuk di tengah gelombang perlawanan atas tirani Orde Lama. Betul, Zubaedah ialah anggota kedua organisasi pelajar tersebut. Sebagai anggota PII, Zubaedah juga tergabung di KAPPI. Ini tak lain karena KAPPI sendiri ditulangpunggungi oleh PII.

Sejumlah media masa kala itu juga memuat jelas nama Zubaedah. Minggu Pagi milik harian Kedaulatan Rakyat (KR) yang terbit di Yogyakarta tahun 1966, menyebut namanya sebagai pahlawan. Bahkan lebih jauh lagi, KR menyandingkannya dengan nama Cosmas Batubara dan nama pahlawan muda lain yang gugur saat itu. Cosmas sendiri ialah tokoh mahasiswa yang berpidato di depan Kampus Salemba Universitas Indonesia membacakan Tritura pada Januari 1966. Ia tampil di depan mikrofon sebagai Presidium Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI). Kelak ia dikenal sebagai menteri pada kabinet Orde Baru.

Majalah sastra Horison yang terbit pertama kali pada Juli 1966 pun memuat nama Zubaedah dalam edisi ketiganya pada bulan September. Nama gadis itu dicantumkan dalam suatu bagian promosi buku “himpunan puisi perjuangan Angkatan 66 yang bangkit melawan tirani yang merupakan karya sastra kebangkitan generasi muda meruntukan kezaliman, ketidakadilan dan kemaksiatan.” Itulah buku kumpulan sajak Tirani karya Taufiq Ismail yang diterbitkan Biro Penerangan KAMI Pusat. Buku itu dimaksudkan untuk merekam “kegemuruhan perlawanan angkatan ini, anekaragam emosi rakyat Indonesia yang adalah justru emosi generasi muda sendiri” termasuk “…panas terik demonstrasi yang dibayangi sangkur terbuka, tersungkurnya Arif, Zubaidah dan korban2 lainnya.”

Memang terdapat beberapa penulisan nama Zubaedah yang berbeda. Ayatrohaedi, mendiang Guru Besar Sastra UI yang juga peserta aksi kala itu, menulisnya Jubaedah. Pusat Sedjarah Angkatan Bersendjata (1970) menyebutnya Zubaedah, seperti harian KR di atas. Sumber lain seperti majalah Horison menulisnya Zubaidah. Buya Hamka dalam Di Bawah Gema Takbir (1976:29) menuliskannya sebagai Siti Zubaedah. Penulisan terakhir ini diikuti pula oleh Tianlean (2002:155) dan Suryadi (2002:178).

Gadis Zubaedah rela keluar dari ruang kelas memenuhi panggilan zaman. Dia hadir ke pentas sejarah ketika Indonesia tengah mengalami krisis dan pergolakan. Rakyat menderita keterpurukan ekonomi, kediktatoran dalam bidang politik, hingga corak kebudayaan yang mengintimidasi kepribadian bangsa. Angka inflasi pada September 1965 tak tanggung-tanggung, mencapai 986 persen (Thamrin, 1998:247). Keadaan diperparah dengan terjadinya pemberontakan G30S/PKI dan kegamangan penguasa menentukan sikap. Tak heran jika mahasiswa melalui KAMI menyuarakan tiga tuntutan rakyat yang biasa dikenal dengan Tritura, yaitu: bubarkan PKI, retool kabinet, dan turunkan harga.

Gelombang demonstrasi tak terelakkan lagi. Walaupun KAMI dibubarkan sepihak oleh rezim berkuasa, tapi pada 24 Februari 1966, ribuan mahasiswa dan puluhan ribu siswa sekolah menengah turun ke jalan di antaranya melalui wadah KAPPI. Mereka tumpah ruah di sekitar Istana dan bangunan gedung Sekretariat Negara di Harmoni (Suryadi, 2002:178). Gerakan rakyat pada hari itu bertujuan untuk menolak pelantikan Kabinet 100 Menteri yang dipandang masih diisi oleh para pejabat korup serta wajah-wajah lama terutama dari pihak PKI. Aksi penggembosan ban mobil pun dilakukan sehingga memacetkan jalanan di sekitar istana.

Aktivis-aktivis KAPPI Jakarta juga menuturkan, bahwa kala itu mereka bergerak “seperti pasukan tempur yang berusaha menapaki wilayah itu ‘semeter demi semeter penuh kewaspadaan karena laras-laras senapan, panser dan poor senjata siaga'” di hadapan mereka. Betapa perjuangan yang amat nyata mengancam nyawa. Derita rakyat menjadi amanat perjuangan yang mesti diselesaikan.

Hingga kemudian, terik Jakarta pun dipanaskan oleh rangsek maju dan desing peluru aparat. Tak sedikit yang menderita luka. Dan sejarah mencatat 2 orang meninggal dunia, itulah ARH dan Zubaedah. Suryadi (2002:178) menyebut Zubaedah sebagai “remaja kecil aktivis KAPPI” yang seperti halnya ARH “membayar janji perjuangan itu dengan darah dan nyawa mereka, tunai!” Pada hari itu, mereka berpulang ke hadirat-Nya. Aktivis mahasiswa 1960-an Hasyrul Moechtar dalam buku Mereka Dari Bandung (1998:159) menceritakan, “pelajar putri” Zubaedah gugur pada waktu hampir bersamaan dengan ARH, yakni pada pukul 12.45 wib, 24 Februari 1966.

Moechtar juga menyebut “keduanya tewas sebagai pejuang Ampera”. Dalam biografi salah seorang tokoh Supersemar, Jenderal Basoeki Rachmat, Zubaedah pun ditulis di antara rincian nama “dua belas mahasiswa dan pelajar yang ditetapkan sebagai Pahlawan Ampera” melalui Ketetapan MPRS No. XXIX/MPRS/1966 (Djamaludin, 1998:68). Zubaedah ialah teladan bahwa pahlawan yang bergerak penuh kesadaran, tak mesti hadir sebagai sosok tua atau berusia puluhan tahun, melainkan belia belasan tahun punya kesempatan yang sama.

Kabar kematian Zubaedah dan ARH itu, seperti dikisahkan media Mingguan Sunda edisi tahun II no 60 (1966: 12) segera saja “sampai ke Bandung, hingga aktivis Bandung mengadakan shalat gaib secara spontan.” Kemudian pada malam harinya, sebanyak 79 civitas akademika dari IKIP, ITB, Unpad, Unpar dan perguruan tinggi lainnya, berkumpul melakukan konsolidasi.

Peristiwa memilukan masih belum berhenti bagi almarhumah Zubaedah. Seperti diceritakan Wibisono (1980:94-95), ketika sudah diangkut ke RSPAD Gatot Subroto, serdadu-serdadu datang hendak “mengurus” jenazah Zubaedah . Mereka “kasarnya (memerintahkan) supaya (jenazah itu) ditanam begitu saja kedalam tanah, titik.” Tak cukup dengan itu, “serdadu-serdadu istimewa itu juga mengancam orangtua almarhumah supaya menutup mulut rapat-rapat tentang wafatnya putri mereka.” Intimidasi itu sedemikian brutal, “sampai orangtua tersebut masih gemetar ketakutan ketika simpatisan-simpatisan datang berkunjung untuk menyatakan belasungkawa.”

Pada malam Jumat itu pula, terjadi fragmen penting yang agaknya menjadikan memori kolektif bangsa kita sedemikian longgar soal Zubaedah: dia “diculik oleh serdadu-serdadu itu waktu Husnie Thamrin mencari dokter.” (Wibisono, 1980). Dalam penuturan Husnie Thamrin (2003:24), malam itu “pimpinan KAPPI sibuk mencari jenazah Zubaidah yang hilang di RSPAD Gatot Subroto.” Menurut Wibisono, oleh para serdadu(?) itu, Zubaedah kemudian dikuburkan di suatu tempat di luar kota Jakarta. Penjelasan ini senada dengan keterangan aktivis 66 lainnya, Soemarno Dipodisastro, bahwa jenazah Zubaedah “diduga disembunyikan oleh Pasukan Cakrabirawa untuk dimakamkan secara rahasia.”

Sementara pada saat yang sama, di lokasi berbeda, di kompleks Taman Pemakaman Umum (TPU) Blok P Kebayoran Baru , liang kubur di sebelah calon kubur ARH, tetap lowong setelah jenazah Pahlawan Ampera tersebut dikuburkan, sebab liang kubur itu disediakan untuk Zubaedah. Para Pahlawan Ampera memang dikebumikan di TPU tersebut, sebelum dipindahkan ke TPU Tanah Kusir pada tahun 1977 (Tempo, 1977). TPU Blok P sendiri akhirnya digusur total pada tahun 1997 (Joga, 2007), untuk pembangunan kompleks Walikota Jakarta Selatan dan kawasan hutan kota, serta hanya menyisakan makam Ade Irma Suryani putrinya Jenderal A.H. Nasution.

Mengenai identitas pelajar Zubaedah, historiografi yang muncul masih menyajikan data berbeda. Wibisono yang pernah jadi redaktur buletin KAMI, dalam Aksi-aksi Tritura (1970:70) menyatakan Zubaedah ialah gadis pelajar SMP yang baru berumur belasan tahun. Soemarno Dipodisastro menulis bahwa Zubaedah ialah siswi SMA kelas 1 berusia 17 tahun (1997:87).

Alamat tinggal Zubaedah sendiri diketahui ada dua. Sebuah sumber menyebut ia berasal dari Bogor (Ayatrohaedi, 2011). Sumber lain menyebut ia tinggal di Jatinegara (Dipodisastro, 1997:87). Bogor sendiri pada tahun-tahun itu tak hanya menyuplai tenaga aksi ke ibukota, tapi juga menjadi sentra aksi didatangi mahasiswa dan pelajar dari berbagai kota, demi menyuarakan aspirasi rakyat langsung di hadapan penguasa di istana negara. Tetapi yang jelas, baik di Bogor maupun di Jatinegara, sejauh penelusuran penulis, tak diketemukan nama jalan Zubaedah untuk mengenang namanya. Hal ini berbeda dengan nama pahlawan Ampera lainnya yang rata-rata diabadikan sebagai nama jalan. Nama ARH bahkan dijadikan sebagai nama Resimen Mahasiswa dan masjid kampus Universitas Indonesia di Salemba.

Dalam budaya populer, detik-detik gugurnya Zubaedah sebenarnya hadir dan beredar, meski mungkin tak banyak yang menyadari. Momen gugurnya Zubaidah ditampilkan tak kurang dalam dua film dari dua zaman berbeda, yaitu film Djakarta 66 (1982) dan Gie (2005). Kendati tidak dijelaskan secara khusus, adegan robohnya seorang perempuan demonstran setelah aparat melepaskan tembakan, jelas menunjukkan satu-satunya korban perempuan yang gugur tertembak kala itu, yang tak lain adalah Zubaedah. Pada film Djakarta 66, adegan itu muncul sekitar detik 1:16:40 – 1:16:42. Sedangkan dalam Gie, kira-kira pada detik ke 1:23:48 – 1:23:52.

Menemukan kembali gadis muslimah bernama Zubaedah ialah ikhtiar untuk menyambung tali sejarah. Sosoknya membuktikan lagi-lagi, bahwa keberislaman tak sepatutnya dan memang tak boleh dipertentangkan dengan kesadaran berbangsa dan bertanah air. Rindu dan cinta tanah kelahiran bukanlah nilai-nilai baru bagi muslim muslimah. Rasa itu turut berakar dari kerinduan Muhammad Sang Uswah Hasanah kepada tanah Mekkah, tatkala ia dan kaum muhajirin berada di negeri Madinah. Akarnya tersambung pula pada perjuangan ulama dan pemimpin kerajaan Islam nusantara yang berupaya mempertahankan kedaulatan negerinya. Organisasi penanda kebangkitan nasional, Sarekat Islam, meletakkan “cinta kepada bangsa” di nomor pertama dari tujuh kewajiban lid (anggota) yang harus diperhatikan (Engelenberg, 1916:131).

Kesadaran semacam itu relevan di tengah tudingan fitnah yang timbul tenggelam, seolah aspirasi umat Islam membahayakan bagi NKRI. Hadirnya kembali Zubaedah adalah simpul kuat yang membuktikan bahwa fitnah itu selain keji, juga ahistoris. Apatah lagi yang mesti dibuktikan padahal nyawa pun sudah pula dikorbankan. Relevansinya juga menguat ketika membandingkan keadaan pelajar sekolah hari ini yang disergap bahaya dari peristiwa dan paham seperti tawuran, konsumerisme, perisakan, hedonisme, kecurangan, liberalisme, dekadensi moral, dan lainnya. Tak pernah terlambat untuk terus mengukuhkan sekolah sebagai lembaga pendidikan yang akrab dengan penegakkan adab dan ketinggian cita-cita, tak sekadar berpuas diri sebagai penyuplai bakal calon tenaga kerja.

Partisipasi Zubaedah selaku anggota pelajar Islam, juga jelas menunjukkan bahwa siswa yang aktif di kerohanian Islam bukanlah anak kemarin sore. Sejak dulu, “kakak-kakak rohis” mereka sudah berjuang mempersembahkan nyawa untuk keadilan dan kemakmuran Ibu Pertiwi. Atau seperti ditegaskan dalam pertimbangan Tap MPRS No XXIX tahun 1966, bahwa “memperjuangkan terlaksananya Amanat Penderitaan Rakyat merupakan perjuangan yang universil dalam menyuarakan budi hati nurani Rakyat, yaitu Kemerdekaan dan Keadilan.”

Bagaimana rupa wajah Zubaedah, di manakah dia pastinya dikubur, tidak diketahui. Siapa pula gerangan kedua orangtua dan sanak saudara, kerabat keluarganya, tak lagi muncul ke permukaan. Apakah sunyi ini semacam ironi. Sebab Zubaedah seolah telah menjadi pahlawan tak dikenal. Tapi apapun namanya, melati tetap kan harum. Di manapun terkubur, emas tetaplah emas. Tokh para wali dan nabi sekalipun juga kerapkali tak dikenali kuburnya dengan rinci dan pasti. Sedangkan untuk kasus Zubaedah sebagai seorang anak manusia di zaman modern yang memiliki hak asasi, bukankah selalu terbuka kemungkinan untuk menyelidiki kembali. Dialah pendahulu Wiji Thukul dan orang-orang hilang lainnya.

Seperti sudah disinggung di atas, tak seperti kebanyakan pahlawan lainnya, nama Zubaedah pun tak disematkan pada satu ruaspun jalan, baik di Bogor atau di Jakarta. Tak juga namanya dilekatkan secara sadar sebagai nama bangunan atau perpustakaan, misalnya. Padahal ini upaya sederhana yang mestinya tak makan banyak biaya. Apalagi kalau pemberian nama tersebut diniatkan sebagai bagian kecil dari ikhtiar untuk menjadi bangsa yang besar. Sambil terus membaca dan menyegarkan ulang inspirasi kepahlawanan yang diwariskan.

 

Referensi:
__. 1966. Mingguan Sunda. Nomor 60. Duta Rakjat
__. 1966. Minggu Pagi. Kedaulatan Rakyat: Yogyakarta.
__. 1966. Ketetapan MPRS Nomor XXIX/MPRS/1966 Tahun 1966 Tentang PENGANGKATAN PAHLAWAN AMPERA, Diakses tanggal 28 November 2017. [ www.hukumonline.com/pusatda…/…/lt5076521aac16b/node/657/tap- mprs-no-xxix_mprs_1966-tahun-1966-pengangkatan-pahlawan-ampera ].
__. 22 Oktober 1977. Setelah Ragu Di Blok P. Diakses tanggal 28 November 2017. [ https://majalah.tempo.co/…/757…/Setelah-Ragu-Di-Blok-P/34/07 ]
__. September 1966. Horison No. 3. Jakarta: Yayasan Indonesia.
Aritonang, Diro. 1999. Runtuhnya Rezim Daripada Soeharto: Rekaman Perjuangan Mahasiswa Indonesia 1998. Pustaka Hidayah.
Dipodisastro, Soemarno., Peter Lewuk. 1997. Tritura dan hanura: perjuangan menumbangkan Orde Lama dan menegakkan Orde Baru. Yanense Mitra Sejati.
Djamaluddin, Dasman. 1998. Jenderal TNI anumerta Basoeki Rachmat dan Supersemar. Gramedia.
Engelenberg, A.J.N.. 1916. Alcohol-enquete 1915. Diakses tanggal 28 November 2017.
Hamka. 1976. Di bawah gema takbir. Kuala Lumpur: Utusan Melayu.
Joga, Nirwono. Yori Antar. 2007. Komedi lenong: satire ruang terbuka hijau. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Moechtar, Hasyrul. 1998. Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung, 1960-1967. Penerbit Alumni.
Suryadi A. P. 2002. Malioboro: Djokdja itoe loetjoe. Hanindita.
Thamrin, Moh. Husnie et.al.1998. Pilar dasar gerakan PII: dasa warsa pertama Pelajar Islam Indonesia. Karsa Cipta Jaya.
Thamrin, Moh. Husnie. 2003. Gerakan eksponen ’66: sebuah kesaksian. Gerakan Nasional Patriot Indonesia.
Tianlean, Bakri A. G. 2002. Bung Karno, antara mitos dan realita: dana revolusi. Komite Penegak Keadilan dan Kebenaran.
Wibisono, Christianto. 1970. Aksi-aksi tritura kisah sebuah partnership, 10 Djanuari-Maret 1966. Departemen Pertahanan- Keamanan, Pusat Sedjarah Angkatan Bersendjata.
Wibisono, Christianto. 1980. Aksi-aksi Tritura: Kisah Sebuah Partnership, 10 Januari – 11 Maret 1966. Yayasan Management Informasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *