Memotret Milenial Muslim

Oleh AB ABDILLAH, Cadik.id – Saya ingin menampilkan bagaimana gambaran sifat milenial muslim saat ini, dan melihat cara pandang mereka. Sampel yang saya ambil adalah pemuda-pemudi yang saya kenal dari berbagai latar belakang, mereka berinteraksi dengan saya dan sering saya “wawancarai” dalam obrolan, milenial-muslim yang saya tampilkan di sini adalah muslim dengan pandangan-alam Islam, jadi mereka dengan sadar menjadikan Islam sebagai ideologi. Saya akan membaginya menjadi tiga golongan dan penamaannya dibuat bedasarkan sifatnya. (1) Aktivis-aktif, (2) Pemuda-cendekia. (3) pewaris-ideologi. Aktivis-aktif Mereka adalah milenial muslim yang mencari ilmu dari kajian-kajian Islam kontemporer, tema kajian yang mereka ikuti cenderung beragam dan pemilihannya sesuai kebutuhan mereka. Mereka ini dapat disebut sebagai kelompok paling “colourful”, itu disebabkan oleh beragamnya ambang keilmuan dan cara pandang […]

Sinema Islam; Memang Sudah Ada?

Merumuskan sinema Islam merupakan wacana yang mungkin ada baiknya dibahas oleh para pengkaji dan praktisi sinema yang memiliki pandangan-alam (worldview) Islam. Saat ini, di Indonesia, pembuatan karya film yang bersinggungan dengan Islam sangat aktif diproduksi, tapi apakah karya-karya yang besinggungan dengan Islam itu memiliki premis yang dibuat dengan pandangan-alam (worldview) Islam? Dalam pengamatan saya, tidak semua karya-karya itu betul-betul Islami, walau bentukan cerita, penokohan dan elemen-elemen luar lainnya dibentuk dengan gambaran Islam, tapi tak jarang mereka menggunakan “mata” ideologi lain dalam memproduksi film-film itu, ada yang memang terjadi karena mencari keuntungan dari sisi bisnis semata, ada pula yang jelas-jelas sebuah propaganda ideologi lain yang menggunakan Islam sebagai “sampan”saja. Mari bercermin dari film Mencari Hilal, film yang diarahkan oleh Ismail Basbeth […]

Pengeras Suara Adzan dan Kedekatan dengan Tuhan

Secara istilah, mengutip Prof. Naquib Al-Attas, sekularisme bisa dipahami sebagai paham “kedisini-kinian”. Menurut Prof. Al-Attas, istilah Inggris secular berasal dari bahasa Latin saeculum yang mempunyai pengertian time (masa) dan location (tempat atau kedudukan). Saeculum berarti masa kini, yang berarti masa sekarang, dan ini juga bermaksud di dunia ini. Implikasinya, “Disini” berarti kebenaran ada disini (dunia), segala hal yang sifatnya “disana” (akhirat) bukan atau belumlah benar adanya. “Kini” berarti zaman (kini; sekarang) menjadi ukuran sebuah kebenaran. Yang benar itu ya yang sekarang. Nanti (hari akhir) ya nanti-nantilah kita bincangkan. Prof Al-Attas dalam “Islam and Secularism” (1978), menyebut tiga komponen proses sekularisasi dalam pemikiran manusia, antara lain: (1) disenchantment of nature (pengosongan alam dari semua makna spiritual); (2) desacralization of politics (desakralisasi […]