Pengeras Suara Adzan dan Kedekatan dengan Tuhan

Secara istilah, mengutip Prof. Naquib Al-Attas, sekularisme bisa dipahami sebagai paham “kedisini-kinian”. Menurut Prof. Al-Attas, istilah Inggris secular berasal dari bahasa Latin saeculum yang mempunyai pengertian time (masa) dan location (tempat atau kedudukan). Saeculum berarti masa kini, yang berarti masa sekarang, dan ini juga bermaksud di dunia ini.

Implikasinya, “Disini” berarti kebenaran ada disini (dunia), segala hal yang sifatnya “disana” (akhirat) bukan atau belumlah benar adanya.

“Kini” berarti zaman (kini; sekarang) menjadi ukuran sebuah kebenaran. Yang benar itu ya yang sekarang. Nanti (hari akhir) ya nanti-nantilah kita bincangkan.

Prof Al-Attas dalam “Islam and Secularism” (1978), menyebut tiga komponen proses sekularisasi dalam pemikiran manusia, antara lain:

(1) disenchantment of nature (pengosongan alam dari semua makna spiritual);
(2) desacralization of politics (desakralisasi politik); dan
(3) deconsecration of values (pengosongan nilai-nilai agama dari kehidupan).

Sementara itu, Harvey Cox, dalam “The Secular City”, menyatakan sekularisasi adalah: “pembebasan manusia dari asuhan agama dan metafisika, pengalihan perhatiannya dari ‘dunia lain’ menuju dunia kini. (Secularization is the liberation of man from religious and metaphysical tutelage, the turning of his attention away from other worlds and towards this one).

Berdasarkan dua definisi ini, sekularisasi dapat dimaknai sebagai proses pengosongan pemikiran manusia dari nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai agama.

Outputnya bisa bermacam-macam. Salah satunya ialah “dipisahnya” agama dengan kehidupan manusia, karena agama dianggap tidak “disini” dan tidak “kini”. Agama hanya ritual belaka. Politik menjadi hal yang tidak sakral karena negara itu urusan manusia bukan urusan “yang di atas sana”.

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi dalam “Misykat” mengatakan bahwa keberadaan Tuhan dalam Islam itu bersifat Transenden dan Imanen. Berbeda dengan sekularisme yang memandang bahwa Tuhan itu Transenden saja. Padahal, Tuhan dalam Islam tidak bergantung pada ciptaanNya termasuk medium yang kita sebut “ruang dan waktu”.

Maka jika kita berpikir kalau Tuhan itu dekat kenapa harus dipanggil dengan pengeras suara, sayang sekali, nilai-nilai sekularisme tertanam dalam diri kita.

Selain karena Adzan itu adalah seruan panggilan Shalat untuk manusia bukan untuk Allah, mempermasalahkan Adzan dengan pengeras suara punya konteks alergi yang cukup tinggi terhadap (syi’ar) agama. Orang sekuler merasa agama itu urusan masing-masing manusia sehingga Adzan tidak perlu pakai pengeras suara, karena masing-masing sudah tahu kapan waktu Shalat tiba. Jadi ya ndak perlu Adzan pakai pengeras suara.

Mudah-mudahan ini juga menjadi momen koreksi diri kita masing-masing untuk menggunakan sound system yang layak, dan menyeleksi Mu’adzin sebagai usaha kita membuat Adzan terdengar lebih indah. Terlepas orang-orang itu Shalat di masjid atau tidak, ikut memakmurkan Masjid atau tidak, dll.

Dan koreksi juga bagi kita yang alergi dengan pengeras suara Adzan, agar lebih memahami makna Adzan sebagai panggilan suci bagi umat Islam. Menghargai kerasnya Adzan sebagaimana menghargai nyaringnya lonceng gereja, cemprengnya tabuh genderang barongsai, dan ketat-sunyinya hari Nyepi. Wallahua’lam.

Btw, saya dulu Juara Lomba Adzan se-Kota Kecamatan he he he

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *