Sinema Islam; Memang Sudah Ada?

Merumuskan sinema Islam merupakan wacana yang mungkin ada baiknya dibahas oleh para pengkaji dan praktisi sinema yang memiliki pandangan-alam (worldview) Islam. Saat ini, di Indonesia, pembuatan karya film yang bersinggungan dengan Islam sangat aktif diproduksi, tapi apakah karya-karya yang besinggungan dengan Islam itu memiliki premis yang dibuat dengan pandangan-alam (worldview) Islam?

Dalam pengamatan saya, tidak semua karya-karya itu betul-betul Islami, walau bentukan cerita, penokohan dan elemen-elemen luar lainnya dibentuk dengan gambaran Islam, tapi tak jarang mereka menggunakan “mata” ideologi lain dalam memproduksi film-film itu, ada yang memang terjadi karena mencari keuntungan dari sisi bisnis semata, ada pula yang jelas-jelas sebuah propaganda ideologi lain yang menggunakan Islam sebagai “sampan”saja.

Mari bercermin dari film Mencari Hilal, film yang diarahkan oleh Ismail Basbeth ini memang berbungkus Islam tapi di dalamnya merupakan propaganda liberalisme (yang dipasang “topeng” Islam). Sebuah film seperti Mencari Hilal harus diakui merupakan konten propaganda ideologi yang baik, sebab mereka membuat gambaran yang mumpuni dan dapat dipercaya walau sebetulnya argumen-argumen dan narasinya layak didebat dan memenangkan satu sisi pemikiran saja (memang seperti itu sifat propaganda), ditambah dengan penggarapan estetik dan teknis yang tepat, sehingga propaganda dari mereka akan masuk ke otak penontonnya jika penonton menonton dengan kondisi bagai lembar kosong.

Lalu, seperti apa harusnya sinema Islam dipandang? Dalam sejarahnya, sinema dunia di bentuk bedasarkan negara-negara yang menjadi founding father sinema itu sendiri, tiap negara-negara yang itu mempunyai citra sendiri terhadap sinemanya seperti Amerika, Prancis, Rusia, Jerman, dan Italia memiliki kekhasan, pembeda ciri sinema tiap-tiap negara itu ada di form dan style-nya. Tentu unuk membetuk sinema Islam yang kita perlukan adalah merumuskan seperti apa form dan style sinema Islam itu sendiri, sehingga akan tercipta ciri yang akan dirasakan oleh tiap penonton bagi semua film Islam.

Lalu apa dasar dalam perumusan form dan style tersebut? Tentu yang menjadi dasarnya adalah pandangan-alam Islam (worldview of Islam), hal ini akan mempengaruhi segala lini pembuatan film, bukan hanya form dan style, bahkan akan mempengaruhi sistem produksi, misalnya dengan pandangan-alam Islam; aktor-aktris yang tidak diperbolehkan bersentuhan oleh hukum agama, maka tidak akan bersentuhan dan dengan mengandalkan nilai kreatifitas pembuat film tersebut tidak perlu takut kehilangan nilai realistis jika mereka hendak mengarahkan movement ke realisme.

Adakah film yang sudah menggunakan pandangan-alam Islam (worldview of Islam)? Ada, tapi betul-betul langka, sebab tak banyak sineas muslim yang sadar akan hal ini, yang mereka lakukan hanya fokus dalam memproduksi film, semua dilakukan dengan intuitif, dan jauh dari pergerakan. Film-film yang disutradarai oleh almarhum Chaerul Umam sebetulnya sudah berpandangan-alam Islam (worldview of Islam), tapi tak seberapa dipahami oleh sineas-sineas dan pengkaji sinema.

Ada baiknya jika sineas-sineas berpandangan-alam Islam berkumpul membentuk konsesus agar terbentuknya form dan style sinema Islam bedasarkan pandangan-alam Islam (worldview of Islam), perlu dilakukan pembukuan dan penerangan terhadap konsensus yang ditemukan. Perlu kita melibatkan ulama, cendekia, peneliti, dan komponen-komponen ummat Islam lainnya agar melibatkan wawasan yang beragam untuk merumuskan hal ini. Saya melihat bahwa ada kesadaran dari beberapa cendikiawan muslim akan pentingnya sinema dalam menangkis pemikiran-pemikiran oponen Islam, penggunaan sinema sebagai alat “suntik” ideologi harus dihadapi dengan sadar, sebab di tangan oponen Islam, ideologi mereka disampaikan secara bawah sadar menggunakan sinema.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *