Memotret Milenial Muslim

Oleh AB ABDILLAH, Cadik.id – Saya ingin menampilkan bagaimana gambaran sifat milenial muslim saat ini, dan melihat cara pandang mereka. Sampel yang saya ambil adalah pemuda-pemudi yang saya kenal dari berbagai latar belakang, mereka berinteraksi dengan saya dan sering saya “wawancarai” dalam obrolan, milenial-muslim yang saya tampilkan di sini adalah muslim dengan pandangan-alam Islam, jadi mereka dengan sadar menjadikan Islam sebagai ideologi. Saya akan membaginya menjadi tiga golongan dan penamaannya dibuat bedasarkan sifatnya. (1) Aktivis-aktif, (2) Pemuda-cendekia. (3) pewaris-ideologi.
Aktivis-aktif

Mereka adalah milenial muslim yang mencari ilmu dari kajian-kajian Islam kontemporer, tema kajian yang mereka ikuti cenderung beragam dan pemilihannya sesuai kebutuhan mereka. Mereka ini dapat disebut sebagai kelompok paling “colourful”, itu disebabkan oleh beragamnya ambang keilmuan dan cara pandang mereka. Mereka dapat ditemui dalam komunitas-komunitas pemuda Islam populer seperti Indonesia Tanpa JIL, lembaga-lembaga dakwah kampus, komunitas-komutitas pemuda Muslim di wilayah tertentu seperti; Ghuroba Youth Crew di Depok, Pemuda Hijrah (Shift) di Bandung, dan lainnya. Ciri sifat paling tampak adalah keaktifan mereka sebagai aktivis mereka paling reaktif dan produktif; semisal ketika terjadi kejadian tragedi kemanusiaan (seperti di Rohingya, Suriah, Palestina, dll) mereka paling sigap menghasilkan konten dan kegiatan yang mendukung kemanusiaan.

Pemuda-cendekia

Di level tertentu, ada milenial Islam yang melanjutkan pencarian ke arah pemikiran, mereka belajar untuk memahami pandangan-alam Islam lebih lanjut. Di golongan ini, arah pencarian ilmu mereka lebih terlihat, ketertarikan mereka masuk ke ranah pemikiran dan implementasinya. Latar-belakang pendidikan mereka lebih beragam namun berusaha menggunakan pandangan-alam Islam untuk diimplementasikan menggudakan disiplin ilmunya masing-masing. Tak jarang aktivis-aktif melanjutkan pencarian ilmunya dan menjadi pemuda-cendekia. Mereka dapat ditemui di pusat-pusat studi pemikiran Islam seperti; Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS), Sekolah Pemikiran Islam (SPI), AQL Islamic Center, dan lainnya. Pembeda mereka dengan aktivis-aktif adalah tingkat kedalaman pemikiran yang terlihat dari konten-konten yang mereka hasilkan, selain membuat kegiatan mereka cenderung lebih aktif membuat konten semacam buku, essai, artikel, karya audio-visual yang tak hanya mengajak melihat lapisan luar pemikiran Islam.

Pewaris-ideologi

Berbeda dengan golongan milenial muslim lain yang berdasarkan pencarian, golongan ini adalah golongan yang ideologinya diwariskan oleh keluarga. Biasanya orangtua mereka adalah aktivis Islam di masanya, lalu di usia sekolah mereka dimasukkan ke sekolah Islam terpadu ataupun pesantren. Biasanya, selain dari dasar ideologi mereka sudah diwarisi pula dengan arah politik, dan seringnya faktor keluarga, struktur partai, dan kekerabatan mempengaruhi cara mereka berkelompok. Mereka dapat ditemui di sekolah-sekolah Islam terpadu, persantren Islam terpadu, lembaga-lembaga dakwah kampus, dan organisasi pemuda mereka populer adalah Garuda Keadilan (GK). Konten dan kegiatan yang mereka buat tak hanya dakwah Islam tapi juga pengenalan arah politik mereka, itu menjadi ciri yang biasanya muncul, entah secara halus, maupun kasar.

Persinggungan

Pengelompokan ini sebetulnya tidak sepenuhnya terpisah-pisah, tak jarang mereka bersinggungan dan berkaitan. Ada yang berawal dari pewaris-ideologi menjadi aktivis-aktif, lalu lanjut menjadi pemuda-cendekia. dan ada juga pola perpindahan lain. Jika diimajinasikan menjadi visual, mereka ini seperti tiga lingkaran yang kait-mengait, ada yang akhirnya memilih menetap, dan ada yang memilih saling mencari tahu. Dalam pesinggungan ini ada juga masalah yang muncul, tak jarang ada pergesekan antara pewaris-ideologi dan aktivis-aktif ini terjadi biasanya terjadi sebab perbedaan cara pandang dan arah politik, tapi sebetulnya pergesekan ini tak muncul dengan skala besar sebab adanya kesamaan pandangan-alam (worldview) mereka. Satu hal yang paling dapat dilihat tiga golongan ini adalah usaha mereka memperjuangkan ideologinya bedasarkan ambang keilmuannya masing-masing.

Potret ini saya tampilkan untuk mempermudah orang-orang memahami sifat milenial muslim, tulisan ini memang dibuat di level permukaan untuk mengantar para pembacanya mencari dan mengobservasi lebih dalam. Mungkin saja telah anda temui mereka dalam lingkar sosial anda, dan diharapkan tulisan ini mempermudah anda untuk beradaptasi dan bersosialisasi,
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” – Al-Qur’an, Surat Al-Hujurat, Ayat 13.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *