Meng-Unfriend Penjajahan Baru

Istilah “penjajahan baru” menggambarkan sebuah anomali. Tak lain karena resminya, kemerdekaan sudah diproklamasikan, tapi penjajahannya masih eksis dan berkeliaran. Tapi istilah itu bukan muncul dari fobia tak berdasar. Tidak pula ia terbit dari alam pikir serba konspiratif yang mudah panik dan gentar. Bung Karno sendiri membungkus istilah itu dalam diksi nekolim, neo-kolonialisme-imperialisme. Lalu seiring waktu, istilah “penjajahan baru” juga diredefinisikan dan diwanti-wanti oleh sejumlah tokoh dan pemikir. Penjajahan baru telah ditelaah berkaitan dengan proyek globalisasi Barat (Arif Munandar, 2014), kekuatan finansial atau diplomasi melalui perusahaan multinasional yang melakukan penjajahan ekonomi melalui penguasaan sumber daya alam (Mangkoehadiningrat, 2011), intellectual colonization atau penjajahan intellektual (Syamsi Ali, 2010), penguasaan ekonomi melalui pengendalian dan penguasaan informasi (Adi Sasono, 2008), information imperialism yang mengisap darah […]

Menemukembali Zubaedah

Bangsa yang besar ialah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Nyaris setiap bulan ada peringatan hari besar nasional (PHBN) yang asal-usulnya terkait kepahlawanan pada masa silam. Tapi bagaimana dengan seorang puan bernama Zubaedah? Agaknya bukan cuma tak dihargai, malah mungkin dia tidak kita ingat lagi. Padahal namanya dulu rutin disandingkan dengan nama Arief Rachman Hakim (ARH) sebagai pahlawan Ampera. Tapi mengapa ia tak diperkenalkan sebagaimana kebanyakan kita kini mengetahui ARH. Apakah dia hadir di buku-buku pelajaran? Diakah yang sempat dikenang tak berapa lama, untuk dilupakan selama-lamanya? Dialah gadis bernama Zubaedah. Ada ribuan mungkin berjuta Zubaedah di dunia. Tetapi gadis yang raib setelah rubuh rebah pada aksi demonstrasi 51 tahun silam, hanya satu Zubaedah. Setengah abad terlewati, rezim berganti, pejabat daerah […]

(Analogi) Islamisasi di Sekitar Kita

Kita makan pagi, makan siang, dan makan malam, alhamdulillah. Baik itu makan pakai sendok, maupun dengan jemari tangan, alhamdulillah. Baik makan sendiri, maupun disuapi, alhamdulillah. Makanan masuk ke mulut, lanjut ke kerongkongan, terus ke lambung, alhamdulillah. Tapi bukan soal makanannya yang jadi pokok pembicaraan kali ini. Halal dan thayib, sudah jelas panduan umumnya. Makan dengan tangan kanan, berdoa sebelum makan, menghabiskan makanan agar tidak mubazir, sudah jelas juga tuntunannya. Tapi sekali lagi, bukan itu pokok pembicaraan tulisan kali ini. Kita akan melihat kembali, bagaimana ketika makanan masuk ke dalam tubuh. Nyatalah, tidak semua yang masuk itu diserap. Tidak semua mie instan, gorengan, donat, chiki, tahu bulat (untuk menyebut beberapa contoh makanan yang debatable ke-thayib-annya) yang masuk ke dalam perut akan […]