Muqaddimah

CADIK adalah komunitas studi tentang pemikiran dan peradaban Islam di Nusantara, berdiri pada tanggal 30 September 2016, yang beranggotakan alumni dari Sekolah Pemikiran Islam, Indonesia. “CADIK” secara harfiah berarti “bambu atau kayu yang dipasang di kiri kanan perahu berbentuk seperti sayap sebagai alat pengatur keseimbangan agar tidak mudah terbalik”. CADIK punya impian untuk menjadi penyeimbang agar perahu bernama “tradisi keilmuan Islam di Nusantara” tersebut tidak terbalik atau karam. Dengan merevitalisasi Ilmu dan Adab dalam tradisi intelektual di Indonesia, CADIK ingin membangun reputasi tradisi keilmuan sebagai bentuk kontribusi dalam memperhidupkan kembali warisan intelektual dan pendidikan Islam.

CADIK memiliki visi atau cita-cita untuk menegakkan tradisi ilmu di tengah-tengah masyarakat muslim Indonesia. Oleh karena itu, CADIK memiliki tiga agenda besar. Pertama, mengarusutamakan “Pandangan Alam Islami”. Sejarah mengatakan bahwa Founding Fathers bangsa Indonesia berasal dari dua entitas keilmuan yang sailng menguatkan. Dua entitas tersebut adalah sintesis dari “Diskusi Besar” antara Pandangan Alam Islam dan Pandangan Nasionalis para Founding Fathers kita. Pandangan Alam Islam telah berkontribusi besar bersama pandangan-pandangan nasionalis saat masa pergerakan dan perjuangan kemerdekaan Indonesia, hingga Indonesia merdeka dan melahirkan Pancasila sebagai dasar atau falsafah kebangsaan. Pancasila dapat dipahami sebagai Maqashid al Syari’ah yang dikonseptualisasikan dalam sebuah kerangka kebangsaan Indonesia.

Kedua, Memasyarakatkan Islamisasi Ilmu Pengetahuan. Sejarah Nusantara adalah sejarah Ilmu Pengetahuan dan sejarah Islamisasi oleh para ‘Ulama Nusantara yang juga berperan dalam perjuangan kemerdekaan. Selain dengan pendirian organisasi-organisasi pergerakan nasional, pergerakan dan perjuangan kemerdekaan tersebut banyak diawali dan dikuatkan dengan pendirian basis-basis Ilmu Pengetahuan. Nusantara memiliki sejumlah institusi-institusi keilmuan Islam yang umurnya jauh lebih tua dibandingkan Negara Indonesia itu sendiri. Pesantren-pesantren di zaman pergerakan dan perjuangan kemerdekaan telah menjadi poros-poros kekuatan yang unik untuk melawan kolonialisme di Nusantara. CADIK memiliki harapan Islamisasi Ilmu Pengetahuan dapat menjadi alternatif bagi masyarakat Indonesia dalam menjawab tantangan-tantangan baru di era globalisasi.

Ketiga, Memperkuat persatuan umat Islam yang berlandaskan pada Adab. Indonesia sangat kental dengan nuansa keberagaman. Keberagaman ini pun ada dalam tradisi-tradisi keilmuan Islam di Indonesia. Keberagaman tersebut dikelola dengan prinsip-prinsip yang mengutamakan Adab sebagai refleksi dari pemahaman tentang “meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya”. CADIK hadir di tengah-tengah masyarakat Indonesia untuk menguatkan keberagaman-keberagaman tersebut dalam kerangka Persatuan Indonesia yang bangun atas dasar nilai-nilai Kemanusian yang Adil dan Beradab (Rahmatan lil ‘Alamin) dan dijiwai oleh prinsip-prinsip Ketuhanan Yang Maha Esa (Tauhidullah). Dengan ini, Indonesia mampu menciptakan nuansa dan nilai-nilai kerakyatan yang berlandaskan pada hikmah dan kebijaksanaan sehingga terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Niat baik dan harapan besar ini mudah-mudahan dapat menjadi kontrbusi untuk Indonesia sebagai negara yang memiliki sejarah Islam yang kuat dan menjiwai dirinya dengan nilai-nilai keislaman yang sangat menghargai keberagaman dan kemanusiaan serta menjunjung tinggi keadilan.


Ikuti kami di

Facebook: CADIK Indonesia

Youtube: CADIK Indonesia

Instagram: @cadikindonesia

Twitter: @cadikindonesia